Sudah Tahu Aturan, Kenapa Masih Melanggar?
- 03 Agt 2026 15:00 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara – Mengapa seseorang tetap melanggar aturan meskipun mengetahui bahwa perbuatan tersebut salah, bahkan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain?
Fenomena ini kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti menerobos lampu merah, merokok di kawasan terlarang, membuang sampah sembarangan, hingga menunda pekerjaan meski mengetahui tenggat waktu sudah dekat.
Menurut Zulkifli, M.Pd, pengetahuan tentang aturan tidak serta-merta membuat seseorang mematuhinya. Dalam kajian psikologi, perilaku manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang lebih kompleks daripada sekadar mengetahui benar atau salah.
Salah satu penyebabnya adalah instant gratification, yaitu kecenderungan otak manusia lebih memilih keuntungan yang dirasakan saat itu juga dibanding mempertimbangkan risiko jangka panjang. Misalnya, menerobos lampu merah dianggap dapat menghemat waktu, atau membuang sampah sembarangan terasa lebih praktis daripada mencari tempat sampah.
Selain itu, terdapat optimism bias, yakni keyakinan bahwa hal buruk seperti kecelakaan, sanksi, atau hukuman tidak akan menimpa diri sendiri. Akibatnya, seseorang merasa menjadi pengecualian sehingga berani melanggar aturan.
Zulkifli juga menilai bahwa aturan tanpa penegakan yang konsisten akan kehilangan wibawa. Ketika pelanggaran dibiarkan tanpa konsekuensi yang jelas, masyarakat akan menganggap aturan hanya sebagai anjuran, bukan kewajiban.
Faktor lingkungan juga berpengaruh melalui social proof, yaitu kecenderungan mengikuti perilaku mayoritas. Jika banyak orang melanggar aturan, tindakan tersebut lama-kelamaan dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Di sisi lain, terdapat pula psychological reactance, yakni dorongan untuk melawan ketika seseorang merasa aturan terlalu membatasi kebebasan, tidak masuk akal, atau dibuat oleh otoritas yang kurang dihormati.
Karena itu, membangun budaya taat aturan tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran individu. Diperlukan penegakan hukum yang konsisten dan adil, aturan yang rasional serta mudah dipahami, serta keteladanan dari lingkungan sekitar.
"Pada akhirnya, pengetahuan berada di dalam kepala, tetapi tindakan sangat dipengaruhi oleh apa yang dilihat, dialami, dan konsekuensi yang diterima setelahnya," tutup Zulkifli.
Oleh: Zulkifli, M.Pd (Kepala SMAN 1 Lhoksukon)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....