Mengapa Validasi dari Orang Asing Terasa Sangat Berharga?

  • 19 Jul 2026 08:12 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di era media sosial, banyak orang merasa senang ketika mendapatkan pujian, komentar positif, atau apresiasi dari orang yang bahkan tidak mereka kenal. Sebuah unggahan yang disukai ribuan orang atau komentar yang mendukung dari orang asing sering kali memberikan kepuasan tersendiri. Menariknya, apresiasi tersebut terkadang terasa lebih berkesan dibandingkan pujian dari orang-orang terdekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan pengakuan merupakan bagian dari kehidupan sosial manusia.

Salah satu penyebabnya adalah karena penilaian dari orang asing sering dianggap lebih objektif. Berbeda dengan keluarga atau teman yang mungkin memberikan dukungan karena kedekatan emosional, pujian dari orang yang tidak memiliki hubungan pribadi terasa lebih "murni" dan tidak dipengaruhi oleh rasa sungkan. Selain itu, media sosial memungkinkan satu unggahan dilihat oleh ribuan bahkan jutaan orang, sehingga setiap bentuk apresiasi terasa memiliki nilai yang lebih besar. Hal inilah yang membuat banyak orang terdorong untuk terus membagikan pengalaman atau karya mereka.

Berdasarkan berbagai penelitian mengenai psikologi sosial, perilaku digital, dan kebutuhan akan pengakuan yang dilansir dari berbagai sumber, manusia secara alami memiliki kebutuhan untuk diterima dan dihargai oleh lingkungan sosialnya. Ketika seseorang memperoleh validasi dari orang yang tidak memiliki hubungan langsung dengannya, otak dapat menganggapnya sebagai sinyal bahwa kemampuan, pendapat, atau karya yang dimiliki memang memiliki nilai secara lebih luas. Namun, apabila rasa percaya diri hanya bergantung pada validasi eksternal, seseorang berisiko menjadi lebih sensitif terhadap kritik dan sulit merasa puas dengan dirinya sendiri.

Meski demikian, mencari apresiasi bukanlah sesuatu yang salah. Dukungan dari orang lain dapat menjadi sumber motivasi untuk terus belajar, berkarya, dan berkembang. Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara menerima masukan dari lingkungan dan tetap memiliki keyakinan terhadap nilai diri sendiri. Dengan begitu, pujian menjadi penyemangat, bukan satu-satunya penentu rasa percaya diri.

Fenomena ini mengingatkan bahwa pengakuan dari orang lain memang dapat memberikan kebahagiaan, tetapi penghargaan terhadap diri sendiri tetap menjadi fondasi yang paling penting. Ketika seseorang mampu menghargai usaha dan pencapaiannya sendiri, validasi dari luar akan menjadi pelengkap, bukan kebutuhan yang harus selalu dipenuhi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....