Kenapa Banyak Orang Sulit Nyaman dengan Keheningan?
- 28 Mei 2026 10:33 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Banyak orang mengaku ingin ketenangan, tetapi ketika benar benar berada dalam suasana sunyi, mereka justru merasa gelisah. Musik segera diputar, notifikasi dicek, atau percakapan dicari hanya untuk mengisi ruang kosong. Keheningan yang seharusnya menenangkan sering kali malah terasa tidak nyaman.
Dalam kajian psikologi dan neurosains, manusia memang memiliki kecenderungan untuk terus mencari stimulasi. Otak modern terbiasa menerima aliran informasi tanpa henti, mulai dari media sosial, video pendek, musik, hingga percakapan digital yang berlangsung hampir sepanjang hari.
Akibatnya, ketika semua stimulasi itu tiba tiba hilang, pikiran mulai menghadapi sesuatu yang selama ini tertutup oleh distraksi dirinya sendiri.
| Baca juga: Hukum Memelihara Jenggot dalam Islam |
Keheningan sering memunculkan pikiran yang tidak nyaman. Ingatan lama, kecemasan, penyesalan, rasa takut terhadap masa depan, hingga pertanyaan tentang hidup mulai muncul ketika tidak ada lagi hal lain yang mengalihkan perhatian. Karena itu, banyak orang sebenarnya bukan takut pada kesunyian, tetapi takut pada isi pikirannya sendiri.
Fenomena ini berkaitan dengan existential anxiety, yaitu kecemasan yang muncul ketika manusia mulai menyadari ketidakpastian hidup, kesendirian, dan keberadaannya sendiri. Dalam kondisi sunyi, manusia lebih mudah memikirkan hal hal yang biasanya berhasil dihindari melalui kesibukan.
Di era digital, kondisi ini semakin kuat. Algoritma media sosial membuat manusia terbiasa dengan stimulasi instan dan cepat. Otak perlahan kehilangan toleransi terhadap jeda. Bahkan beberapa detik tanpa hiburan bisa terasa membosankan atau membuat cemas.
Menariknya, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian orang merasa tidak nyaman hanya dengan duduk diam tanpa distraksi selama beberapa menit. Otak modern tampaknya semakin sulit berada dalam kondisi tanpa rangsangan.
Namun, keheningan sebenarnya memiliki fungsi penting bagi manusia. Dalam keadaan sunyi, otak mulai memproses emosi, menyusun refleksi, dan memahami pengalaman hidup dengan lebih dalam. Banyak ide, kesadaran diri, dan pemahaman emosional justru muncul ketika manusia berhenti dari kebisingan sekitarnya.
Masalahnya, proses itu tidak selalu nyaman. Keheningan memaksa manusia melihat dirinya tanpa filter dan tanpa pelarian. Karena itu, banyak orang lebih memilih tetap sibuk, bahkan sampai kelelahan, daripada harus terlalu lama sendirian dengan pikirannya sendiri.
Pada akhirnya, sulit nyaman dengan keheningan bukan berarti manusia lemah. Itu menunjukkan bahwa di balik semua kebisingan modern, masih ada banyak hal dalam diri manusia yang belum benar benar selesai dihadapi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....