Menjaga Tunas Bangsa ala Aceh: Perkuat Akhlak, Pendidikan, dan Ekonomi Umat
- 20 Mei 2026 10:11 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap 20 Mei menjadi momentum penting bagi masyarakat Aceh untuk merefleksikan arah pembangunan generasi muda di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Mengusung tema nasional “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara,” semangat kebangkitan dinilai tidak cukup hanya dimaknai secara seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui penguatan akhlak, pendidikan, dan ekonomi umat.
Di Aceh, nilai-nilai kebangkitan bangsa memiliki akar sejarah yang kuat. Daerah yang dikenal sebagai Serambi Mekkah itu sejak dahulu melahirkan banyak ulama, pejuang, dan tokoh pendidikan yang berperan penting dalam menjaga identitas bangsa dan agama. Namun di era digital saat ini, tantangan generasi muda semakin beragam, mulai dari krisis moral, rendahnya literasi, pengaruh media sosial, hingga ancaman judi online dan narkoba.
Akademisi dan konsultan hukum, Dr. Bukhari, M.H., CM menilai bahwa menjaga tunas bangsa tidak cukup hanya melalui slogan atau kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, Aceh membutuhkan gerakan nyata yang menyentuh pembinaan karakter generasi muda sejak dini.
Akhlak harus menjadi fondasi utama kebangkitan bangsa. Jika generasi muda cerdas tetapi kehilangan moral dan adab, maka bangsa ini akan menghadapi krisis yang lebih besar di masa depan,” ujar Dr. Bukhari, Rabu 20 Mei 2026,
Ia menjelaskan, Aceh memiliki modal sosial dan religius yang kuat melalui budaya dayah, pendidikan agama, serta tradisi masyarakat yang menjunjung nilai-nilai keislaman. Modal tersebut harus diperkuat agar tidak tergerus arus modernisasi yang tidak terkendali.
Menurutnya, kampus, sekolah, dayah, dan keluarga harus berjalan seiring dalam membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian sosial.
| Baca juga: 5+6=12 |
Jangan sampai kita hanya melahirkan generasi pintar secara teknologi, tetapi lemah dalam tanggung jawab sosial dan spiritual. Kebangkitan nasional harus dimulai dari pembentukan manusia yang berkarakter,” katanya.
Selain pendidikan dan akhlak, Dr. Bukhari juga menyoroti pentingnya penguatan ekonomi umat sebagai bagian dari menjaga kedaulatan bangsa. Ia menilai tingginya angka pengangguran dan lemahnya kemandirian ekonomi masyarakat dapat memicu berbagai persoalan sosial di tengah generasi muda.
Kebangkitan bangsa tidak akan kuat tanpa ekonomi umat yang mandiri. Anak muda Aceh harus didorong menjadi pelaku usaha, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa menjaga tunas bangsa berarti menjaga identitas budaya dan nilai lokal Aceh yang selama ini menjadi benteng sosial masyarakat. budaya gotong royong, serta penghormatan kepada ulama dan guru dinilai perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini pun diharapkan menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi muda hari ini. Aceh, dengan kekuatan agama, adat, dan pendidikan yang dimiliki, dinilai memiliki peluang besar menjadi contoh daerah yang mampu membangun generasi unggul sekaligus berakhlak.
Kalau akhlak dijaga, pendidikan diperkuat, dan ekonomi umat dibangun, maka Aceh tidak hanya menjaga tunas bangsa, tetapi juga menjaga masa depan Indonesia,” tutup Dr. Bukhari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....