Silaturahmi Ramai, tapi Hati Masih Saling Curiga.

  • 16 Apr 2026 14:21 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ada yang menarik dari wajah masyarakat kita hari ini: silaturahmi tampak begitu hidup di permukaan, tetapi terasa rapuh di dalam. Kita saling berkunjung, berjabat tangan, tersenyum, bahkan tertawa bersama. Namun di saat yang sama, kecurigaan tetap tumbuh diam-diam di dalam hati. Seolah-olah, silaturahmi hanya menjadi ritual sosial, bukan lagi jembatan kepercayaan.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan, tetapi realitas yang mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Di acara keluarga, di forum keagamaan, hingga di ruang-ruang publik, interaksi berlangsung hangat. Namun begitu percakapan bergeser ke isu yang sensitif politik, ekonomi, atau bahkan perbedaan pandangan keagamaan suasana bisa berubah seketika. Kedekatan yang tadi terasa, mendadak menguap.

Kita seolah hidup dalam dua dunia: dunia lahiriah yang penuh silaturahmi, dan dunia batiniah yang penuh prasangka.

Padahal dalam tradisi keummatan, silaturahmi bukan sekadar aktivitas sosial. Ia adalah fondasi dari kepercayaan. Dalam perspektif ajaran Islam, silaturahmi bahkan diposisikan sebagai amalan yang memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Tetapi makna ini menjadi kehilangan daya ketika silaturahmi tidak lagi diiringi dengan ketulusan.

Yang terjadi hari ini, silaturahmi sering kali berhenti pada seremoni. Kita hadir, berjabat tangan, berfoto, lalu selesai. Tidak ada upaya sungguh-sungguh untuk memahami satu sama lain. Tidak ada ruang untuk membuka sekat-sekat yang selama ini memisahkan. Yang ada justru sebaliknya: kita tetap membawa “jarak” itu ke dalam setiap pertemuan.

Kecurigaan sosial pun tumbuh subur. Kita mudah berprasangka terhadap orang lain hanya karena perbedaan pilihan politik, afiliasi kelompok, atau latar belakang sosial. Di era digital, situasi ini semakin diperparah. Informasi yang beredar tanpa verifikasi sering kali memperkuat stigma, bukan memperbaiki hubungan. Akibatnya, silaturahmi di dunia nyata tidak mampu menembus tembok curiga yang sudah dibangun di dunia maya.

Ironisnya, kita sering merasa sudah cukup baik hanya karena masih menjaga tradisi bertemu. Padahal, esensi silaturahmi bukan pada frekuensi pertemuan, melainkan pada kualitas hubungan. Silaturahmi sejati menuntut kejujuran, keterbukaan, dan keberanian untuk menyingkirkan prasangka.

Dalam konteks kebangsaan, kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh infrastruktur atau kebijakan, tetapi oleh kepercayaan antar warganya. Ketika kecurigaan menjadi budaya, maka kohesi sosial akan melemah. Kita mungkin tetap terlihat rukun, tetapi sesungguhnya rapuh.

Lebih jauh, dalam konteks keummatan, kecurigaan adalah racun yang perlahan menggerogoti ukhuwah. Ia memecah belah tanpa terlihat, menjauhkan tanpa disadari. Ketika umat lebih sibuk mencurigai daripada memahami, maka persatuan hanya tinggal slogan.

Salah satunya adalah kecenderungan untuk menilai tanpa mengenal. Kita lebih cepat menyimpulkan daripada mendengarkan. Kita lebih nyaman berada dalam kelompok yang seragam daripada membuka diri terhadap perbedaan. Dalam kondisi seperti ini, silaturahmi hanya menjadi formalitas yang tidak mampu menyentuh akar persoalan.

Kita juga sering lupa bahwa kepercayaan tidak lahir secara instan. Ia harus dibangun, dirawat, dan dijaga. Tidak cukup hanya dengan bertemu sesekali, tetapi membutuhkan komunikasi yang jujur dan berkelanjutan. Tanpa itu, setiap pertemuan hanya akan menjadi panggung yang menutupi jarak, bukan menghapusnya.

Karena itu, sudah saatnya kita mengembalikan silaturahmi pada makna yang sebenarnya. Silaturahmi harus menjadi ruang untuk saling memahami, bukan sekadar saling menyapa. Ia harus menjadi jembatan untuk meruntuhkan prasangka, bukan sekadar menjaga citra.

Kita perlu berani membuka percakapan yang jujur, meski tidak selalu nyaman. Kita perlu belajar mendengar tanpa buru-buru menghakimi. Dan yang terpenting, kita harus mulai dari diri sendiri: mengurangi kecurigaan, memperbanyak empati.

Sebab pada akhirnya, persatuan tidak dibangun dari keramaian pertemuan, tetapi dari kedalaman kepercayaan.

Jika silaturahmi hanya ramai di luar tetapi kosong di dalam, maka kita sedang berjalan di tempat. Namun jika silaturahmi mampu menembus sekat-sekat curiga, maka di situlah harapan bagi keummatan dan kebangsaan menemukan jalannya kembali.

Mungkin kita tidak bisa mengubah semua orang. Tetapi kita bisa mulai dari satu hal sederhana: menjadikan setiap silaturahmi bukan hanya ajang bertemu, tetapi kesempatan untuk benar-benar menyambung hati.

Oleh: Dr. Bukhari M.H.CM- Akademisi sekaligus Advokat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....