Mencari Akar Masalah dari Lunturnya Dedikasi Guru dalam Mengajar

  • 05 Apr 2026 11:43 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - "Guru 'Silent Quitters': Mengapa Banyak Pendidik Memilih Menjadi Asing di Sekolah Sendiri?

Oleh: Juni Ahyar Akademisi, Peneliti, Pemerhati Pendidikan dan Bahasa.

Juni Ahhar

Di atas kertas, tugas seorang guru adalah mengajar di dalam kelas. Namun, secara moral, sekolah adalah rumah kedua di mana guru seharusnya menjadi "tuan rumah" yang peduli pada setiap sudutnya. Sayangnya, kita sering menemui fenomena guru yang hanya datang, mengajar, lalu pulang. Bagi mereka, kondisi gedung yang kusam, prestasi sekolah yang merosot, hingga iklim sosial sekolah yang toksik bukan lagi urusan mereka. Mengapa dedikasi ini luntur menjadi sikap "masa bodoh"?

Akar Masalah: Dari Zona Nyaman hingga Luka Lama Ada lima alasan utama mengapa seorang guru kehilangan rasa miliknya terhadap sekolah.

Pertama, jebakan zona nyaman. Mengajar dengan pola yang sama selama bertahun-tahun tanpa tantangan baru membuat guru bekerja secara mekanis seperti robot.

Kedua, adanya kekecewaan masa lalu. Banyak guru apatis dulunya adalah sosok yang sangat vokal dan penuh ide. Namun, ketika ide-ide mereka terus-menerus dibenturkan pada tembok birokrasi sekolah yang kaku atau pimpinan yang tidak mau mendengar, mereka memilih untuk "pensiun dini secara mental". Mereka diam karena merasa suaranya tidak berharga.

Ketiga, adanya miskonsepsi tanggung jawab. Masih banyak yang menganggap kemajuan sekolah hanyalah tugas kepala sekolah dan jajaran wakilnya.

Keempat, rutinitas yang membosankan yang menggerus motivasi.

Dan kelima, ketiadaan budaya kepedulian. Jika lingkungan sekolah terbiasa dengan prinsip "yang penting kerjaan saya beres", maka semangat gotong royong akan mati perlahan.

Solusi: Memulihkan Rasa Memiliki Agar sekolah tidak menjadi sekadar tempat transit presensi, diperlukan langkah nyata untuk memulihkan ekosistem pendidikan kita:

  1. Kepemimpinan yang Inklusif (The Listening Leader): Kepala sekolah harus berhenti menjadi komandan dan mulai menjadi fasilitator. Ruang-ruang diskusi harus dibuka lebar. Setiap ide, sekecil apa pun, harus diapresiasi agar guru merasa kontribusinya berharga bagi masa depan sekolah.
  2. Rotasi dan Pembaruan Tantangan: Untuk melawan kejenuhan zona nyaman, sekolah perlu menciptakan proyek-proyek inovatif yang melibatkan guru lintas mata pelajaran. Tantangan baru akan memicu adrenalin kreativitas yang selama ini mati suri.
  3. Membangun Budaya 'Our School, Our Home': Perlu ada kegiatan kolektif yang tidak hanya bersifat administratif. Bangun kegiatan yang mempererat ikatan emosional antar-guru. Ketika guru merasa nyaman secara sosial, rasa memiliki (sense of belonging) akan tumbuh dengan sendirinya.
  4. Sistem Penghargaan (Reward System) yang Adil: Penghargaan tidak selalu soal uang. Pengakuan publik di depan rekan sejawat atau dukungan fasilitas untuk pengembangan diri bagi guru yang peduli akan memicu guru lain untuk keluar dari sikap apatisnya.

Sekolah yang kuat bukan hanya soal program yang bagus di atas kertas, tapi soal seberapa besar hati guru-gurunya tertinggal di sana. Jika rasa memiliki hilang, yang tersisa hanyalah rutinitas kering tanpa makna.

Mari kita kembalikan sekolah menjadi milik bersama, karena di tangan guru yang pedulilah, masa depan anak bangsa benar-benar dipertaruhkan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....