Mudik Mahasiswa, Rindu Pulang dan Waktu yang Tak Bisa Diulang

  • 21 Mar 2026 20:18 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Mengapa kita ingin pulang saat Ramadan? Apakah sekadar melepas rindu, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang kita cari?

Bagi mahasiswa perantau, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Ia adalah pertemuan antara rindu, lelah, dan harapan yang lama disimpan. Namun, di balik kebahagiaan yang terlihat, mudik mahasiswa menyimpan realitas yang tidak selalu sederhana. Setiap Ramadan, harga tiket transportasi cenderung meningkat, membuat banyak mahasiswa harus berpikir ulang untuk pulang.

Di sisi lain, kebutuhan perjalanan serta keinginan membawa oleh-oleh menjadi beban tambahan. Dalam kondisi keuangan terbatas, mudik bukan hanya soal rindu, tetapi juga soal kemampuan.

Kampus pun sering kali belum sepenuhnya peka. Jadwal kuliah yang padat hingga mendekati hari raya serta tugas yang terus berjalan memaksa mahasiswa berpacu dengan waktu. Tidak sedikit yang mudik dalam keadaan lelah, bahkan masih dibayangi tanggung jawab akademik. Padahal, memberi kelonggaran waktu sebelum Ramadan adalah bentuk empati yang seharusnya dipertimbangkan.

Perjalanan pulang juga bukan sekadar soal jarak. Mahasiswa membawa kegelisahan tentang masa depan, pencapaian, dan pertanyaan-pertanyaan yang menunggu di rumah. Pertanyaan seperti “kapan lulus?” atau perbandingan dengan orang lain kerap muncul tanpa disadari dampaknya. Padahal, setiap mahasiswa sedang menjalani proses yang berbeda. Karena itu, rumah semestinya menjadi ruang pulang, bukan ruang penilaian.

“Yang penting luangkan waktu untuk buka puasa bersama ayah dan ibu, ya. Ingat, Nak…Ramadan akan selalu datang, tapi ayah dan ibu belum tentu ada di setiap Ramadan,” ucap ibu.

Bagi mereka yang masih memiliki orang tua lengkap, kalimat ini menjadi pengingat yang paling jujur. Bahwa waktu tidak selalu datang dua kali. Pada akhirnya, mudik bagi mahasiswa bukan sekadar perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah ambisi mengejar masa depan, ada waktu bersama keluarga yang tidak akan pernah bisa diulang.

Penulis: Sarah Humaira, Mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....