Akal vs Syahwat: Duel Sunyi yang Menentukan Arah Hidup Manusia.
- 18 Mar 2026 09:10 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Di tengah kehidupan modern yang semakin dinamis, masyarakat dihadapkan pada satu pertarungan yang tak kasat mata, namun berdampak besar dalam kehidupan sehari-hari: pertarungan antara akal dan syahwat. Fenomena ini kian nyata terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari gaya hidup konsumtif, kebiasaan berutang demi gengsi, hingga perilaku menyimpang yang sebenarnya disadari sebagai kesalahan.
Akademisi UIN Dr. Bukhari, M.H., CM, menilai bahwa kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran peran akal dalam kehidupan manusia modern. Persoalan utama hari ini bukan karena manusia tidak tahu mana yang benar dan salah, tetapi karena akal sering kalah oleh dorongan syahwat. Ini yang berbahaya,” ujarnya.
Di era digital, dorongan syahwat tidak lagi hadir secara alami, tetapi diproduksi secara sistematis melalui media sosial dan budaya populer. Keinginan untuk tampil, diakui, dan dipuji menjadi kebutuhan semu yang terus dipelihara. Akibatnya, banyak orang lebih mengikuti apa yang diinginkan daripada apa yang dibutuhkan.
Menurut Bukhari, dalam perspektif Islam, akal memiliki posisi strategis sebagai pengendali, sementara syahwat adalah potensi yang harus diarahkan, bukan dihilangkan. Syahwat itu bukan musuh, tetapi energi. Namun jika tidak dikendalikan oleh akal dan nilai-nilai agama, ia bisa menjadi sumber kerusakan, baik pada diri sendiri maupun dalam kehidupan sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak persoalan sosial yang terjadi saat ini termasuk perilaku konsumtif, krisis moral, hingga praktik-praktik yang merugikan orang lain berakar dari dominasi syahwat atas akal.
Fenomena ini juga terlihat dalam momentum Ramadan. Di satu sisi, masyarakat mampu menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang justru melampiaskan keinginan secara berlebihan saat berbuka.
Puasa seharusnya menjadi latihan mengendalikan syahwat. Tapi jika hanya menahan di siang hari dan melampiaskan di malam hari, maka esensi puasanya tidak tercapai,” kata Bukhari.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penguatan akal tidak cukup hanya dengan pendidikan formal, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari hal kecil, seperti berpikir sebelum bertindak, menahan keinginan yang tidak perlu, dan membiasakan hidup sederhana. Ini bagian dari upaya mengembalikan akal sebagai pemimpin dalam diri manusia,” ungkapnya.
Dalam konteks Aceh, yang dikenal dengan penerapan nilai-nilai Islam, tantangan ini menjadi semakin relevan. Simbol-simbol religius yang kuat perlu diiringi dengan penguatan kesadaran individu dalam mengendalikan diri.
Jangan sampai kita kuat secara simbol, tetapi lemah dalam pengendalian diri. Karena pada akhirnya, kualitas manusia tidak diukur dari apa yang tampak, tetapi dari bagaimana ia mampu mengendalikan dirinya,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pertarungan antara akal dan syahwat adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan latihan yang konsisten agar manusia tidak terjebak dalam dominasi keinginan sesaat.
Ketika akal memimpin, hidup akan lebih terarah dan tenang. Tetapi ketika syahwat yang menguasai, maka kehancuran hanya tinggal menunggu waktu,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....