Sindrom Tokoh Utama di Era Digital
- 09 Mar 2026 18:23 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Di era media sosial, setiap orang seperti memiliki layar bioskop pribadi. Feed Instagram, video pendek, hingga story harian menjadi ruang untuk membingkai hidup seolah ia adalah film dengan diri sendiri sebagai pusat cerita. Fenomena ini populer disebut main character syndrome, istilah yang merujuk pada kecenderungan seseorang melihat hidupnya sebagai alur utama sementara orang lain hanya figuran. Tren ini bukan sekadar estetika konten, melainkan cerminan perubahan cara individu memaknai eksistensi di ruang digital.
Secara psikologis, kecenderungan tersebut berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan dan pembentukan identitas. Dalam teori dramaturgi dari Erving Goffman, kehidupan sosial dianalogikan sebagai panggung teater. Individu menampilkan versi terbaik dirinya di front stage dan menyimpan sisi rentan di back stage. Media sosial memperluas panggung itu tanpa batas dan menghadirkan audiens yang tidak selalu terlihat namun selalu hadir. Algoritma memperkuat narasi personal dan menjadikan momen sederhana tampak sinematik serta penuh makna.
Berdasarkan sejumlah riset psikologi komunikasi yang dilansir dari berbagai sumber, peningkatan intensitas penggunaan media sosial berkaitan dengan kebutuhan validasi eksternal yang semakin tinggi, terutama pada generasi muda. Ketika interaksi sosial diukur lewat angka seperti likes, views, dan komentar, identitas mudah terikat pada performa digital. Dalam konteks ini, main character syndrome dapat dipahami sebagai respons adaptif terhadap sistem yang memang memberi penghargaan pada visibilitas dan atensi.
Meski sering dipandang negatif, ada sisi konstruktif dari fenomena ini. Merasa menjadi tokoh utama dapat meningkatkan rasa percaya diri dan sense of control terhadap hidup. Individu terdorong menyusun narasi personal yang lebih terarah, menetapkan tujuan, serta memaknai pengalaman secara reflektif. Dalam batas wajar, perspektif ini membantu seseorang melihat hidupnya sebagai perjalanan yang layak diperjuangkan dan bukan sekadar rangkaian kejadian acak.
Namun persoalan muncul ketika narasi personal berubah menjadi egosentrisme sosial. Jika setiap orang merasa sebagai pusat cerita, ruang empati dapat menyempit. Percakapan berpotensi berubah menjadi ajang pembuktian diri, bukan lagi pertukaran makna. Relasi menjadi rapuh karena masing masing pihak sibuk menjaga citra peran utamanya. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa menjadi protagonis dalam hidup sendiri tidak berarti mengabaikan peran orang lain dalam membentuk alur cerita tersebut.
Pada akhirnya, menjadi tokoh utama adalah cara sehat untuk menghargai diri selama diimbangi dengan kesadaran kolektif. Hidup memang milik kita, tetapi cerita tidak pernah berdiri sendiri. Dalam perjalanan yang kompleks, justru interaksi antar tokohlah yang membuat kisah menjadi utuh, tidak hanya dramatis tetapi juga autentik dan manusiawi.