Seni Berdamai dengan Kemiskinan

  • 07 Mar 2026 09:03 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada November 2025 lalu bukan hanya meninggalkan lumpur dan puing-puing rumah warga. Bencana itu juga meninggalkan satu persoalan besar yang hingga kini masih terasa: kemiskinan yang semakin menekan kehidupan masyarakat.

Di banyak gampong yang terdampak, masyarakat dipaksa belajar satu hal yang pahit, yakni seni berdamai dengan kemiskinan. Bukan karena mereka ingin hidup miskin, tetapi karena keadaan sering kali tidak memberi banyak pilihan.

Rumah yang rusak belum sepenuhnya diperbaiki, lahan pertanian masih tertutup lumpur, dan usaha kecil yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga belum sepenuhnya pulih. Namun kehidupan tetap harus berjalan. Sebagian warga memperbaiki rumah dengan bahan seadanya, membuka kembali warung kecil di depan rumah, sawah dan tambak tidak bisa digunakan.

Di situlah tampak ketangguhan masyarakat Aceh. Mereka tidak banyak mengeluh, tetapi memilih bertahan. Dalam keterbatasan, mereka menemukan cara untuk tetap hidup. Inilah yang bisa disebut sebagai seni bertahan dalam kemiskinan.

Namun kemiskinan tidak boleh dinormalisasi. Ia bukan takdir yang harus diterima begitu saja. Data Badan Pusat Statistik selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Aceh masih relatif tinggi dibanding rata-rata nasional. Ketika bencana datang, kelompok masyarakat miskin adalah pihak yang paling pertama merasakan dampaknya dan paling lama bangkit dari keterpurukan.

Karena itu, seni berdamai dengan kemiskinan seharusnya tidak menjadi kondisi permanen. Negara dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana berjalan secara nyata.

Program bantuan sosial, pembangunan kembali rumah warga, pemulihan sektor pertanian, hingga pemberdayaan usaha kecil harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Kebijakan yang tidak tepat sasaran hanya akan memperpanjang penderitaan korban bencana.

Dalam Islam, kemiskinan juga bukan sesuatu yang dibiarkan begitu saja. Islam menyediakan mekanisme sosial melalui zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen untuk memperkuat solidaritas dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Dalam banyak hadis bahkan disebutkan bahwa kemiskinan bisa menjadi ujian berat bagi kehidupan manusia.

Aceh sebenarnya memiliki modal sosial yang kuat. Semangat gotong royong dan solidaritas masyarakat masih terjaga dengan baik. Ketika bencana terjadi, masyarakat saling membantu membangun kembali rumah, membersihkan gampong, dan berbagi makanan.

Namun solidaritas masyarakat tentu tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kebijakan yang kuat dan berpihak kepada rakyat kecil agar proses pemulihan berjalan lebih cepat.

Hari ini, banyak masyarakat Aceh memang sedang belajar berdamai dengan kemiskinan. Tetapi di balik itu, sebenarnya mereka sedang menunjukkan daya tahan hidup yang luar biasa.

Aceh mungkin pernah berkali-kali dilanda bencana, tetapi masyarakatnya selalu menemukan cara untuk bangkit. Dan harapan itu akan tetap hidup, selama negara tidak menutup mata terhadap penderitaan rakyatnya.

Sabtu 7 Maret 2026

Oleh : Dr. Bukhari.M.H.CM- akademisi dan Advokat

Rekomendasi Berita