Puasa di tengah Macet Kutablang
- 03 Mar 2026 11:52 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Bireun - Senin, 2 Maret 2026, sore itu seharusnya menjadi perjalanan biasa menjelang berbuka puasa. Namun bagi Dr. Bukhari, M.H., CM, perjalanan yang dimulai sekitar pukul 16.30 WIB berubah menjadi ujian panjang di atas Jembatan Kutablang.
Arus kendaraan yang awalnya melambat, perlahan benar-benar terhenti. Mobil, sepeda motor, dan truk mengular tanpa celah. Suara klakson terdengar bersahutan. Wajah-wajah pengendara mulai terlihat tegang, terlebih waktu berbuka semakin dekat.
Saya kira hanya padat biasa menjelang Magrib dan berbuka puasa. Tapi setelah hampir setengah jam tidak bergerak, saya sadar ini akan lama,” ujar Dr. Bukhari.
Waktu menunjukkan pukul 17.30 WIB. Kendaraan belum juga bergerak signifikan. Di tengah panas dan kepadatan, rasa lapar dan haus kian terasa. Namun di situlah, menurutnya, makna puasa benar-benar diuji.
Ujian Sabar di Atas Jembatan
Menjelang azan Magrib, situasi semakin menegangkan. Sebagian pengendara mulai gelisah. Ada yang turun dari kendaraan, ada pula yang tak sabar menekan klakson berulang kali.
Dr. Bukhari memilih tetap tenang. Di dalam mobil, ia menyiapkan air mineral untuk berbuka sederhana. Saat azan Magrib berkumandang, ia berbuka di balik kursi penumpang, sementara kendaraan masih terjebak memasuki jembatan.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan amarah. Di situ saya benar-benar merasakan ujian kesabaran,” katanya.
Ia mengingatkan firman Allah dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).
Menurutnya, ayat tersebut sangat relevan dengan situasi yang dihadapi sore itu. Dalam kondisi tak nyaman, sabar menjadi kunci agar ibadah tidak ternodai oleh emosi.
Rasulullah SAW juga bersabda bahwa puasa adalah perisai. Artinya, puasa melindungi seseorang bukan hanya dari hawa nafsu makan, tetapi juga dari luapan amarah dan perilaku yang merugikan orang lain.
Refleksi Dua Jam Dua Puluh Menit
Kemacetan baru mulai terurai sekitar pukul 18.50 WIB. Total waktu yang dihabiskan Dr. Bukhari melalui Jembatan Kutablang mencapai sekitar dua jam dua puluh menit.
Baginya, sore itu bukan sekadar peristiwa lalu lintas, tetapi juga ruang refleksi spiritual. Jalan boleh sempit dan macet, tetapi hati tidak boleh ikut sempit. Klakson boleh berbunyi, tetapi lisan dan sikap harus tetap terjaga.
Kesabaran itu memang tidak ada ujian tertulisnya. Tapi Allah menilai bagaimana kita bereaksi dalam situasi sulit,” ujarnya.
Ia berharap, selain adanya evaluasi teknis terhadap manajemen lalu lintas di kawasan Kutablang, masyarakat juga semakin menyadari pentingnya etika dan kesabaran, terutama di bulan suci.
Sore itu, Jembatan Kutablang menjadi saksi bahwa puasa bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah latihan karakter agar di tengah kemacetan sekalipun, iman tetap berjalan lebih cepat daripada emosi.
Karya Dr. Bukhari, M.H., CM.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....