Fenomena Bukber, Silaturahmi atau Ajang Pembuktian Status?
- 18 Feb 2026 20:40 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Menjelang Ramadan dan selama bulan suci berlangsung, agenda buka bersama (bukber) menjadi ritual sosial yang hampir tak terelakkan. Dari reuni sekolah, komunitas kerja, hingga lingkar pertemanan, kalender sosial mendadak padat. Pada dasarnya, bukber merepresentasikan nilai silaturahmi, mempererat relasi, memperpanjang jejaring, dan memperkuat kohesi sosial. Namun dalam praktik kontemporer, muncul pertanyaan kritis: apakah bukber masih murni ruang kebersamaan, atau telah bergeser menjadi arena pembuktian status sosial?
Dalam perspektif symbolic interactionism, setiap interaksi sosial sarat makna simbolik. Lokasi restoran, cara berpakaian, hingga cara membayar tagihan bukan sekadar detail teknis, melainkan simbol yang merepresentasikan identitas dan posisi sosial. Sejumlah kajian sosiologi gaya hidup yang dilansir dari berbagai sumber menunjukkan bahwa konsumsi ruang publik, termasuk pilihan tempat makan, sering kali menjadi medium ekspresi kelas sosial. Ketika bukber digelar di tempat yang eksklusif, simbol kemapanan ikut dipertontonkan secara implisit.
Tekanan sosial mulai terasa ketika partisipasi dalam bukber tidak lagi sepenuhnya sukarela, melainkan didorong rasa sungkan atau takut tertinggal. Teori social comparison menjelaskan bahwa individu cenderung menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Dalam konteks bukber, perbandingan ini dapat muncul dalam bentuk sederhana: siapa yang datang dengan kendaraan apa, siapa yang mentraktir, atau siapa yang paling “sukses” secara finansial. Interaksi yang seharusnya hangat berpotensi berubah menjadi arena evaluasi sosial.
Fenomena ini diperkuat oleh budaya digital. Dokumentasi bukber diunggah ke media sosial sebagai penanda eksistensi kolektif. Laporan perilaku pengguna media sosial yang dilansir dari berbagai sumber menunjukkan bahwa momen kebersamaan memiliki tingkat keterlibatan tinggi. Namun, ketika unggahan tersebut dibaca sebagai representasi pencapaian gaya hidup, bukber perlahan bergeser dari ruang intim menjadi panggung semi publik. Validasi digital dapat memperbesar tekanan bagi individu yang merasa belum berada pada “level” sosial yang sama.
Dari sisi ekonomi, bukber juga menciptakan beban tersendiri. Pilihan restoran premium atau konsep all you can eat sering kali menuntut pengeluaran di luar kebiasaan. Bagi sebagian orang, keputusan hadir bukan hanya soal kebersamaan, tetapi juga soal kemampuan finansial. Dalam beberapa laporan literasi keuangan yang dilansir dari berbagai sumber, pengeluaran musiman tanpa perencanaan disebut sebagai salah satu faktor yang mengganggu stabilitas anggaran rumah tangga.
Meski demikian, tidak adil jika bukber direduksi semata sebagai ajang pamer. Banyak komunitas tetap menjadikannya ruang refleksi dan solidaritas. Tantangannya terletak pada kesadaran kolektif untuk menjaga esensi silaturahmi. Ketika interaksi dibebaskan dari kebutuhan pembuktian status, bukber kembali pada fungsi dasarnya: mempertemukan, bukan membandingkan; menguatkan, bukan mengukur.
Dengan refleksi kritis, masyarakat dapat menempatkan bukber sebagai ruang sosial yang sehat. Spirit Ramadan semestinya memperhalus relasi, bukan mempertajam hierarki. Di titik inilah, pilihan individu dan norma kolektif saling menentukan arah, apakah bukber menjadi simbol kebersamaan atau sekadar etalase status sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....