Ujung Sya’ban, Menguji Kesiapan Menyambut Ramadhan

  • 13 Feb 2026 12:00 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Hari ini adalah Jumat terakhir di bulan Sya’ban. Jumat depan, kita sudah memasuki Ramadhan. Waktu terasa berjalan biasa saja, tetapi sesungguhnya ia sedang membawa kita menuju bulan yang selalu kita rindukan. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: kita benar-benar siap, atau hanya sedang semangat?

Sya’ban sering kali menjadi bulan yang sunyi. Ia berada di antara Rajab yang dimuliakan dan Ramadhan yang diagungkan. Padahal dalam riwayat sahabat Usamah bin Zaid, Rasulullah menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, sementara pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah. Artinya, sebelum kita sibuk menghias Ramadhan dengan ucapan dan perayaan, catatan amal kita sedang diserahkan.

Ramadhan setiap tahun datang dengan gegap gempita. Spanduk “Marhaban Ya Ramadhan” terbentang. Promo diskon bermunculan. Masjid penuh pada malam pertama. Media sosial dipenuhi ayat dan nasihat. Namun di tengah semarak itu, kita jarang bertanya: apakah Ramadhan adalah momentum perubahan, atau sekadar tradisi tahunan?

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Dalam perspektif maqasid syariah, ia adalah latihan menjaga agama (hifz al-din), membangun kesadaran moral, serta mengendalikan hawa nafsu. Puasa seharusnya melahirkan pribadi yang lebih jujur, lebih amanah, dan lebih peduli. Tetapi realitas sering memperlihatkan ironi. Kita berpuasa, tetapi masih mudah menyebarkan kabar bohong. Kita tarawih, tetapi lisan tetap tajam melukai. Kita membaca Al-Qur’an, tetapi belum tentu adil dalam bersikap. Ramadhan tidak kekurangan ritual; yang sering kurang adalah integritas.

Jumat terakhir Sya’ban ini seharusnya menjadi alarm ruhani. Sudahkah kita berdamai dengan orang yang kita sakiti? Sudahkah hutang kita lunasi? Sudahkah kita meminta maaf kepada orang tua? Sudahkah kita menghentikan praktik curang dalam pekerjaan atau jabatan? Ramadhan bukan mesin penghapus dosa otomatis. Puasa tanpa perubahan akhlak hanya menghasilkan lapar, bukan takwa.

Ironisnya, setiap Ramadhan konsumsi meningkat, sampah bertambah, dan harga kebutuhan melonjak. Kita menahan diri dari makan, tetapi belum tentu menahan diri dari keserakahan. Kita sibuk menyiapkan menu berbuka, tetapi lupa menyiapkan hati. Kita bersemangat menyambut suasana, tetapi belum tentu siap menjalani makna.

Semangat itu mudah. Siap itu butuh kesungguhan. Semangat terlihat di unggahan media sosial. Siap terlihat dalam perubahan sikap. Ramadhan bukan panggung pencitraan; ia adalah ruang pembongkaran diri. Jika hati masih penuh iri dan dengki, Ramadhan hanya menjadi rutinitas. Jika jabatan masih dipakai untuk menzalimi, ibadah hanya menjadi kosmetik moral.

Maka di Jumat terakhir Sya’ban ini, mari jujur pada diri sendiri. Apakah kita hanya ingin suasana Ramadhan, atau benar-benar ingin menjadi manusia yang lebih bertakwa? Karena jika Ramadhan berlalu dan kita tetap sama, maka yang berubah hanya kalender bukan karakter.

Sya’ban akan datang lagi tahun depan. Namun belum tentu kita masih diberi kesempatan menyambutnya. Maka sebelum Ramadhan benar-benar tiba, benahi yang belum selesai. Bersihkan hati. Luruskan niat. Perbaiki akhlak. Agar ketika Ramadhan datang, kita tidak sekadar semangat tetapi benar-benar siap. 13 Februari 2026.

(Oleh: Tgk. Dr Bukhari.M.H CM- Alumni Dayah BUDI Lamno Aceh jaya).

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....