Gelar Pahlawan, Ini Fakta Yang Terlupakan Tentang Soeharto
- 15 Nov 2025 19:13 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Jakarta: Presiden Prabowo Subianto menganugerahi gelar Pahlawan Nasional baru kepada 10 (sepuluh) tokoh bangsa yang didasarkan pada Keputusan Presiden tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Gelar itu resmi diberikan tepat di peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 di Istana Negara, Jakarta.
Paling mencuat dan menjadi sorotan publik adalah pemberian gelar Pahlawan bagi mantan Presiden Soeharto dan Aktivis Buruh Marsinah. Sementara gelar Pahlawan baru lainnya juga disematkan kepada mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Sarwo Edhie Prabowo.
Berikutnya, gelar Pahlawan juga diberikan kepada mantan Menteri Hukum Mochtar Kusumaatmadja, hingga tokoh pendidikan perempuan Rahmah El Yunussiyah, Sultan Muhammad Salahuddin, Ulama Syoikhuna Muhammad Kholil, Pejuang dari Sumatera Utara Tuan Rondahaim Saragih, serta Sultan Tidore Sultan Zainal Abidin Syah.
Pemerintah RI menjelaskan, bahwa proses penetapan pahlawan nasional dilakukan melalui tahapan berjenjang, dimulai dari usulan masyarakat tingkat Kabupaten/Kota yang kemudian ditelaah oleh tim peneliti dan pengkaji gelar. Tim tersebut beranggotakan akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta gubernur sebelum akhirnya diajukan ke tim pusat dibawah koordinasi kementerian sosial.
Sebelumnya juga, Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan (GTK) mengungkapkan kepada awak media, terdapat 49 figur yang dinilai memenuhi syarat sebagai Pahlawan Nasional. Namun setelah proses finalisasi bersama presiden, diputuskan sepuluh nama yang dianggap paling layak menerima penghargaan tertinggi tersebut.
Penganugerahan ini, menjadi bagian dari upaya pemerintah meneguhkan penghormatan terhadap jasa dan keteladanan para tokoh yang telah berkontribusi besar bagi bangsa dan negara.
Sejarawan senior Indonesia, Prof. Dr. Anhar Gonggong, MA, mengungkapkan dalam sebuah tayangan video Podcast, menyikapi polemik gelar Pahlawan bagi Soeharto, menyampaikan, bahwa tidak banyak orang yang tahu sebenarnya dimasanya Soeharto menyelamatkan Indonesia dari kebangkrutan.
"Barangkali yang orang tidak pikirkan, ketika Soeharto naik jadi Presiden, Republik ini itu Negara bangkrut. Dalam kondisi bangkrut Pak Harto jadi Presiden", ungkap Prof Anhar Gonggong sambil senyuman khasnya.
Bangkrutnya itu lumayan tinggi, yakni 600% angka inflasi. Nah, Soeharto ditengah-tengah kebangkrutan itu kemudian menggunakan ahli-ahli Ekonomi dari Universitas Indonesia (UI).
"Makanya waktu itu ada istilah Barclays. Dan itu sebenarnya ya ada kaitannya juga dengan Ayahnya Prabowo juga, Pak Sumitro", ungkap Anhar lagi sambil tertawa lebar.
Dalam sudut pandangnya sebagai Sejarawan dan peneliti bahwa terserah publik menilai bagaimana, ada beberapa hal yang dilakukan Presiden Soeharto di masa kepemimpinannya, dan paling fundamental adalah sektor Ekonomi.
"Bagaimanapun juga dari negara bangkrut, enggak punya duit, tentu harus mencari darimana mendapat bantuan. Sampai memperoleh kucuran dana dari Belanda, Australia, Amerika, Jepang, yang memberi bantuan", ujar Anhar Gonggong.
Proses itu pula yang kemudian membawa Indonesia yang dari kondisi nyaris bangkrut menuju negara berkembang, berhasil membangun ekonominya kembali, tambah Anhar Gonggong.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....