BI Lhokseumawe Gandeng Guru Bireuen Perluas Edukasi Rupiah hingga Ruang Kelas
- 03 Okt 2026 21:11 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Upaya memperkuat kecintaan generasi muda terhadap Rupiah kini didorong masuk lebih jauh ke ruang kelas. Bank Indonesia menggandeng guru se-Kabupaten Bireuen melalui Training of Trainer (ToT) Kebanksentralan dan Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe Yan Ramerta Putra hadir dalam kegiatan tersebut. Turut hadir Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Pemprov Aceh Wilayah Kabupaten Bireuen Yusnita, S.E.Ak., S.Pd., M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen Dr. Muslim, M.Si., serta perwakilan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bireuen.
Kegiatan ini tidak sekadar membekali guru dengan pengetahuan tentang kebanksentralan dan Rupiah. Lebih jauh, guru dipersiapkan menjadi penghubung edukasi Bank Indonesia dengan generasi muda dan masyarakat.

Dalam sambutan Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, yang di bacakan oleh Yan Ramerta Putra, Bahwa Bank Indonesia tidak mungkin hadir sendiri di setiap sekolah dan lingkungan masyarakat. Karena itu, dibutuhkan mitra yang mampu menyampaikan edukasi secara dekat dan berkelanjutan.
“Salah satu mitra yang sangat strategis adalah Bapak dan Ibu Guru,” demikian pesan Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe dalam sambutannya.
Menurutnya, guru memiliki posisi penting karena setiap hari berinteraksi dengan generasi muda. Pengetahuan yang disampaikan di ruang kelas dapat dibawa siswa ke rumah dan diteruskan kepada orang tua maupun lingkungan sekitar.
Melalui ToT tersebut, guru diharapkan tidak hanya memahami materi kebanksentralan dan CBP Rupiah, tetapi juga mampu menyampaikannya kembali kepada siswa menggunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami.
“Kami tidak mengharapkan Bapak dan Ibu menjadi ahli ekonomi atau ahli kebanksentralan. Yang kami harapkan adalah Bapak dan Ibu menjadi edukator yang mampu menyampaikan pesan penting Bank Indonesia dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” demikian disampaikan dalam sambutan tersebut.
Pesan tentang Rupiah juga diarahkan pada kebiasaan sederhana. Mulai dari tidak melipat, mencoret, meremas, menstaples maupun membasahi uang Rupiah, hingga mengenali keasliannya melalui metode Dilihat, Diraba, dan Diterawang atau 3D.

Di tengah derasnya informasi digital, peran guru dinilai semakin penting. Informasi mengenai ekonomi, pembayaran digital, Rupiah dan Bank Indonesia semakin mudah ditemukan, namun tidak seluruh informasi dapat dipahami dengan benar.
Guru diharapkan menjadi sumber informasi yang dipercaya siswa, sekaligus membantu mereka memahami perkembangan teknologi dan sistem pembayaran secara bijak.
Rantai edukasi yang dibangun pun cukup jelas: Bank Indonesia kepada guru, guru kepada siswa, kemudian siswa membawa pengetahuan tersebut kepada keluarga dan masyarakat.
“Dari Bank Indonesia kepada guru, dari guru kepada siswa, dan dari siswa kepada keluarga dan masyarakat. Inilah efek yang ingin kita bangun bersama,” demikian pesan dalam sambutan Kepala Perwakilan BI Lhokseumawe.
Melalui kegiatan ini, BI berharap lahir lebih banyak Guru Agen Edukasi Kebanksentralan dan CBP Rupiah yang aktif di sekolah masing-masing.
Sebab, ketika edukasi Rupiah hadir di ruang kelas, pesan tentang Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi diharapkan terus bergerak dari sekolah menuju keluarga dan masyarakat di Kabupaten Bireuen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....