Diduga Dicekik Teman, Siswa SMPN 2 Kejuruan Muda Takut Sekolah
- 20 Agt 2026 21:35 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Tamiang,– Seorang siswa kelas VII SMPN 2 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, disebut mengalami trauma setelah diduga dicekik oleh siswa kelas IX di lingkungan sekolah. Kondisi tersebut membuat korban merasa takut untuk kembali mengikuti kegiatan belajar seperti biasa. Orang tua korban, Srimahdaleni, mengatakan anaknya masih berusaha masuk sekolah meski diliputi rasa cemas. Ia bahkan sempat pulang lebih cepat karena mengeluhkan sakit setelah mengikuti pelajaran.
Menurut Srimahdaleni, persoalan tersebut bermula dari perkelahian antarsiswa yang kemudian berlanjut pada dugaan tindakan pencekikan terhadap anaknya. Ia menyebut bagian mata anaknya mengalami pembengkakan setelah kejadian. Kekhawatiran orang tua semakin besar karena anaknya merasa takut akan mendapat intimidasi setelah persoalan tersebut mencuat di lingkungan sekolah. “Anak saya takut diintimidasi setelah kejadian itu,” ujar Srimahdaleni saat dikonfirmasi, Kamis 20 Agustus 2026.
Srimahdaleni juga menyoroti rapat yang digelar pihak sekolah pada Rabu (19/8). Ia menilai pembahasan dalam pertemuan tersebut justru lebih banyak menyoroti tindakan wali kelas, Nuning, yang disebut menampar siswa yang diduga melakukan pencekikan. Bagi Srimahdaleni, tindakan guru tersebut perlu dilihat dalam konteks upaya melindungi anak didiknya dan mengungkap persoalan yang terjadi. Ia juga menyayangkan tidak adanya permintaan maaf yang diterimanya dari pihak sekolah maupun keluarga siswa yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
“Saya berterima kasih kepada Ibu Nuning karena sudah bertanggung jawab menjaga anak saya dan berani mengungkap siapa yang mencekiknya,” kata Srimahdaleni. Ia mengaku hadir dalam rapat tersebut dan menandatangani daftar kehadiran. Karena itu, ia membantah apabila disebut tidak mengikuti pertemuan sebagaimana disampaikan pihak sekolah.
Sementara itu, Plt. Kepala SMPN 2 Kejuruan Muda, Suprianto, memberikan keterangan berbeda ketika dikonfirmasi. Ia menyatakan tidak terdapat kejadian siswa dicekik dan mengatakan orang tua korban tidak hadir dalam rapat sekolah. Pernyataan tersebut berseberangan dengan keterangan Srimahdaleni yang mengaku hadir, bahkan namanya tercatat dalam daftar absensi peserta rapat. Perbedaan keterangan tersebut membuat penanganan kasus di sekolah menjadi sorotan. Hingga kini, diperlukan klarifikasi dan pemeriksaan menyeluruh dari pihak terkait agar fakta mengenai insiden, kondisi siswa serta langkah perlindungan terhadap seluruh peserta didik dapat diketahui secara objektif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....