Inggit A Wulan, Pulang ke Musik Bersama Jiwa yang Terang

  • 14 Agt 2026 23:27 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ada masa ketika seseorang harus meninggalkan sesuatu yang dicintainya, bukan karena berhenti mencintai, tetapi karena kehidupan membawa langkahnya ke arah berbeda. Bagi Inggit A. Wulan, musik adalah cinta lama yang sempat ia tinggalkan hampir dua dekade. Namun, waktu ternyata tidak pernah benar-benar memutus hubungan itu. Musik kembali datang, mengetuk pintu yang pernah ditutup, hingga akhirnya membawanya menemukan kembali dirinya sebagai seorang solois dan musisi indie.

Lahir di Medan, 25 April 1988, Inggit Ambar Wulan tumbuh dari keluarga dengan latar budaya Jawa dan Aceh-Arab. Sejak SMA, ia telah mengenal dunia musik bersama band indie Pokers. Namun, perjalanan tersebut harus terhenti karena berbagai pertimbangan keluarga. “Dulu, sejak tahun 2004 saya meninggalkan dunia musik. Kemudian saya dipertemukan kembali dengan musik pada 2021 ketika bergabung dengan NAFC. Awalnya datang ke NAFC juga hanya sebagai fans,” kenang Inggit.

Pertemuan dengan komunitas Nike Ardilla Fans Club (NAFC) menjadi salah satu titik balik penting dalam hidupnya. Bermula dari aktivitas sebagai penggemar, Inggit kemudian dipercaya menjadi MC dalam sejumlah kegiatan. Dari atas panggung itulah kerinduan terhadap dunia musik kembali muncul. “Pada saat menjadi MC, saya kemudian diarahkan untuk bernyanyi. Mungkin karena begitu rindunya dengan dunia musik, suara saya akhirnya didengar oleh banyak orang,” tuturnya.

Kembalinya Inggit ke dunia musik semakin terbuka setelah seorang teman sesama penggemar Nike Ardilla mencoba membuatkan lagu untuknya. Ia kemudian memperkenalkan sang teman kepada suaminya dan mendapatkan dukungan untuk kembali bernyanyi. Dari proses tersebut lahirlah single perdana “Ilusi”, yang menjadi salah satu penanda kebangkitan Inggit setelah lama meninggalkan panggung musik.

Karya itu kemudian mempertemukannya kembali dengan teman-teman lamanya dari Pokers. Pertemuan tersebut bukan sekadar reuni, melainkan membuka kembali lembaran perjalanan yang sempat tertinggal. Mendengar kisah perjuangan teman-temannya setelah ia pergi, Inggit merasa memiliki tanggung jawab moral untuk kembali melanjutkan apa yang pernah mereka mulai. Ia pun memilih jalur solo dan membawakan kembali sejumlah karya yang memiliki ikatan emosional dengan perjalanan masa mudanya.

Perjalanan kreatif itu terus berkembang. Inggit menghadirkan karya seperti Cinta Bertahanlah, EP perdana Memoar, hingga “Jiwa yang Terang”. Lagu terakhir membawanya pada sebuah perjalanan artistik yang jauh lebih besar: menggarap video musik di Selandia Baru. Lanskap pegunungan, danau dan alam liar menjadi bagian penting dari visual karya tersebut. Bahkan proses produksinya berlangsung dalam kondisi ekstrem dengan suhu di bawah nol derajat dan lokasi yang jauh dari permukiman.

“Jiwa yang Terang adalah pengingat bahwa di tengah luas dan megahnya alam ciptaan Tuhan, kita hanyalah manusia yang sangat kecil. Saya berharap video musik ini bisa mengajak siapa pun yang menonton untuk lebih bersyukur dan merasakan kebesaran-Nya,” ujar Inggit.

Perjalanan di Selandia Baru juga meninggalkan pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan. Dalam salah satu perjalanan di kawasan pegunungan es, Inggit sempat mengalami hipotermia setelah kehabisan bahan bakar gas ketika bermalam. Namun, pengalaman tersebut justru memperkaya makna karya yang sedang dibangunnya. Baginya, alam bukan sekadar latar visual, tetapi ruang untuk belajar tentang keteguhan, rasa syukur dan keterbatasan manusia.

Di luar musik, Inggit dikenal menyukai kegiatan petualangan, termasuk mendaki gunung. Baginya, mendaki adalah pengalaman yang sulit diterjemahkan hanya melalui kata-kata. “Kalau ingin mengenal diri sendiri, yuk coba kita menyatu dengan alam. Mendaki, bersusah-susah tanpa memakai ego,” katanya.

Kini, Inggit tidak lagi melihat musik sebagai sesuatu yang pernah hilang dari hidupnya. Musik justru menjadi ruang untuk menyusun kembali potongan-potongan perjalanan yang pernah ia lalui. Dari seorang remaja yang harus meninggalkan band, menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu, hingga akhirnya kembali berdiri sebagai solois, perjalanan Inggit memperlihatkan satu hal, sebuah mimpi boleh tertunda, tetapi tidak selalu berarti harus berakhir.

Dengan eksplorasi warna musik dan genre yang terus berkembang, Inggit A. Wulan kini menatap babak baru kariernya. Ia datang bukan hanya membawa suara, tetapi juga cerita. Dan mungkin, justru karena pernah kehilangan panggung, setiap nada yang kini ia nyanyikan terdengar jauh lebih berarti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....