Memahami Autisme dan Pentingnya Pendampingan Bagi Anak Autis

  • 07 Feb 2026 21:38 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Mendidik dan mendampingi anak berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan autisme, membutuhkan kesabaran, ketulusan, serta keterampilan khusus. Hal tersebut disampaikan Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Cinta Mandiri Lhokseumawe, Karnila, SE., Gr., saat mengisi dialog Ruang Disabilitas di RRI Pro Satu Lhokseumawe, Sabtu, 7 Februari 2026.

Dialog bertajuk “Latihan Komunikasi pada Anak Autisme” itu membahas berbagai metode melatih kemampuan komunikasi anak autisme, di antaranya melalui latihan kontak mata, pengenalan kosakata menggunakan pola abjad, huruf, dan vokal, serta pemanfaatan media kartu hingga nyanyian.

Karnila menjelaskan bahwa anak-anak dengan autisme perlu dilatih dan dididik secara konsisten serta diterapi dengan penuh ketelatenan agar mampu lebih mandiri dan dapat melakukan komunikasi dua arah. Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan saraf kompleks yang memengaruhi kemampuan interaksi sosial, komunikasi verbal maupun nonverbal, serta pola perilaku penderitanya.

Beberapa gejala umum autisme antara lain kurangnya kontak mata, tidak merespons saat dipanggil, keterlambatan bicara (speech delay), kecenderungan menyendiri, perilaku berulang (stimming), serta sensitivitas terhadap rangsangan sensorik tertentu.

Menurut Karnila, autisme tidak dapat disembuhkan secara instan dan memerlukan proses terapi berkelanjutan dalam jangka waktu panjang. Anak autisme juga tidak boleh diberi tekanan atau dipaksa mengenal lingkungan sosial tanpa pendampingan yang memadai.

“Anak autisme menganggap keramaian sebagai ancaman atau sesuatu yang tidak nyaman. Karena itu, mereka membutuhkan pendampingan dari orang terdekat, baik guru maupun keluarga, saat berinteraksi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemaksaan untuk berinteraksi ketika anak belum siap justru dapat menimbulkan tekanan dan memicu respons penolakan spontan seperti tantrum. Karnila yang telah 12 tahun mengajar di SLB Cinta Mandiri menekankan pentingnya memahami kesiapan emosional anak.

Selain aspek komunikasi, perhatian terhadap pola makan anak autisme juga menjadi hal penting. Konsumsi gula berlebih, misalnya, dapat memicu perilaku hiperaktif sehingga perlu dibatasi.

Karnila menyebutkan bahwa anak autisme memiliki peluang untuk berkembang secara optimal hingga dewasa apabila mendapatkan terapi yang tepat, khususnya terapi bicara serta pendampingan sesuai potensi dan keterampilan yang dimiliki.

“Banyak anak autisme memiliki bakat mewarnai dan imajinasi tinggi. Jika dikembangkan dengan baik, mereka bisa berprestasi,” katanya.

Saat ini, SLB Cinta Mandiri Lhokseumawe memiliki 80 murid dengan dukungan 23 tenaga pendidik. Sekolah tersebut melayani pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, tunanetra, tunarungu, tunagrahita, serta anak dengan Down syndrome, dengan berbagai pembelajaran dan keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....