Ramadan Momentum Peningkatan Spiritualitas dan Kepedulian Sosial

  • 19 Mar 2026 20:09 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Bulan suci ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum krusial bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (habluminallah) sekaligus mempererat hubungan antarmanusia (habluminannas).

Hal ini menjadi pokok bahasan utama dalam program siaran "Tafakkur" yang diselenggarakan atas kerja sama Kantor Kementerian Agama Kota Lhokseumawe dengan RRI Lhokseumawe pada Rabu, 18 Maret 2026.

Penceramah Ustaz Tgk. Ahmad Adami, S.H., dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa Ramadan adalah bulan yang difokuskan untuk meningkatkan kualitas amal ibadah sebagai bekal di akhirat kelak. Menurutnya, peningkatan spiritualitas merupakan proses panjang dalam meningkatkan kesadaran diri untuk memaknai hidup melalui doa, meditasi, dan rasa syukur yang mendalam atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Dalam tausiahnya, Ustaz Ahmad menekankan bahwa kesalehan seorang muslim tidak hanya diukur dari ibadah mahdah atau ibadah langsung kepada Tuhan. Lebih dari itu, dimensi sosial atau kepekaan terhadap sesama menjadi indikator penting dalam kesempurnaan iman seseorang, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang saat ini.

"Kepekaan sosial adalah hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk membantu sesama. Rasulullah sangat menyayangi fakir miskin dan anak yatim, bahkan beliau mencontohkan langsung dengan memberi makan seorang Yahudi tua di sudut Kota Madinah," ujar Ustaz Ahmad Adami dalam petikan tausiyahnya.

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, terdapat golongan orang yang sangat dirindukan oleh surga, salah satunya adalah mereka yang gemar memberi makan orang yang lapar.

Oleh karena itu, ibadah zakat dan sedekah dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun kepekaan sosial serta membantu masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok selama bulan Ramadan.

Ustaz Ahmad mengingatkan bahwa seorang mukmin diibaratkan seperti satu tubuh yang saling merasakan penderitaan satu sama lain. Jika ada bagian tubuh yang sakit, maka bagian lainnya pun akan ikut merasakan kepedihan tersebut. "Tidak sempurna iman seseorang kecuali dia merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya," tambahnya.

Sebagai penutup, tausiyah tersebut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menyeimbangkan antara hubungan spiritual dan aksi nyata di masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....