Menjaga Keharmonisan Keluarga jelang Idulfitri
- 19 Mar 2026 20:07 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe– Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, menjaga keharmonisan dalam keluarga menjadi hal yang sangat penting. Persiapan menyambut Idulfitri tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan batin antarkeluarga.
Hal ini disampaikan oleh Ustadz Adnan Yahya dalam Program Obrolan Ramadan Pro Satu RRI Lhokseumawe, edisi Rabu, 18 Maret 2026 kemarin. Dalam dialog tersebut, ditegaskan bahwa keluarga memiliki peran strategis dalam Islam sebagai fondasi utama membangun masyarakat yang berkualitas.
Ustadz Adnan Yahya, menyampaikan bahwa esensi Idulfitri adalah kembali kepada kesucian yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Ia menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang tua dan kerabat sebagai bentuk silaturahmi utama.
Silaturahmi sangat dashyat manfaatnya dan bisa menjadi salah satu pintu masuk surganya seseorang. Justru sebaliknya bagi yang memutus silaturahmi bisa menjadi salah satu penyebab masuk nerakanya seseorang.Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahmi/rahim) (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan meskipun saat seseorang sudah tidak lagi memiliki ayah ibu (sudah wafat), namun wajib bagi seorang anak menyambung silaturahmi dengan mengunjungi keluarga ayah maupun ibunya.
Ustadz Adnan juga mengingatkan bahwa kemeriahan perayaan tidak boleh menggeser makna utama Idulfitri, yaitu saling memaafkan dan memperbaiki hubungan. Tanpa keharmonisan dalam keluarga, makna kemenangan di hari raya akan kehilangan nilai spiritualnya.
Selain itu, Ustadz Adnan mengimbau agar pertemuan antaranggota keluarga saat berkumpul tidak disibukkan dengan handphone atau bermedsos. Masyarakat diingatkan untuk mengurangi penggunaan gawai dan lebih mengutamakan interaksi langsung yang hangat dan penuh kasih sayang.
Ustadz Adnan Yahya juga mengingatkan agar Idulfitri tidak dijadikan ajang pamer atau membahas hal-hal sensitif yang dapat melukai perasaan anggota keluarga. Sebaliknya, momen tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebersamaan serta menumbuhkan empati dan kepedulian.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa keberhasilan ibadah puasa dapat dilihat dari perubahan sikap seseorang setelah Ramadan, terutama dalam memperlakukan keluarga. Idulfitri bukanlah akhir, melainkan awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peduli terhadap sesama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....