Beberapa Kesalahan Berbuka Puasa yang Wajib Dihindari

  • 11 Mar 2026 23:29 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Dalam program "Mutiara Pagi" yang disiarkan Pro Satu RRI Lhokseumawe edisi Selasa 10 Maret 2026 kemarin, Ustadz Khairunnasri menyoroti berbagai fenomena kesalahan perilaku yang sering dilakukan masyarakat saat waktu berbuka puasa tiba. Menurutnya, banyak kebiasaan yang justru mengaburkan makna spiritual dan manfaat kesehatan dari puasa itu sendiri.

Kesalahan pertama yang menjadi sorotan adalah fenomena "ngabuburit" yang berlebihan. Ustadz Khairunnasri menjelaskan bahwa banyak anak muda yang terjebak dalam euforia berkumpul hingga melupakan bahwa waktu menjelang berbuka adalah momentum mustajab untuk berdoa.

"Kita melihat kondisi berbuka puasa adalah kondisi euforia, rasa senang yang terlampiaskan ini pada ujung akhirnya menghilangkan esensi puasa itu sendiri," ujarnya dalam program Mutiara Pagi tersebut.

Lebih lanjut, Ustadz Khairunnasri menekankan pentingnya menjaga ibadah salat Magrib di tengah agenda buka puasa bersama (bukber). Sering kali, keasyikan bersosialisasi membuat seseorang menunda atau bahkan meninggalkan salat.

Ia mengibaratkan orang yang berpuasa namun tidak salat, seperti pekerja yang tidak mendapatkan gaji. Baginya, salat adalah tiang agama yang menjadi wadah untuk melekatkan pahala dari amal saleh lainnya, termasuk puasa.

Terkait tata cara membatalkan puasa, menurutnya terdapat kekeliruan umum dalam urutan berdoa. Banyak masyarakat yang langsung membaca doa panjang sebelum membasahi kerongkongan. Ustadz Khairunnasri menyarankan untuk membatalkan puasa terlebih dahulu dengan basmalah dan seteguk air, baru kemudian melafalkan doa berbuka.

Hal ini dianggap lebih sesuai dengan tuntunan syariat agar seseorang benar-benar merasakan nikmatnya saat-saat doa dikabulkan. Sisi kesehatan juga tidak luput dari pembahasan, terutama kebiasaan mengonsumsi makanan berat secara mendadak. Tubuh yang telah beristirahat selama belasan jam sebaiknya tidak langsung "dihajar" dengan porsi besar atau minuman yang terlalu manis dan dingin.

"Berbukalah dengan yang belum disentuh api, seperti buah-buahan yang kaya air dan serat," tambah Ustadz Khairunnasri. Ia menegaskan bahwa air putih adalah pilihan terbaik untuk menghidrasi ginjal tanpa memicu lonjakan gula darah yang drastis.

Kekeliruan perilaku lainnya adalah ketidakmampuan menahan diri hanya untuk waktu lima menit guna mendahulukan salat Magrib. Jika di siang hari seseorang mampu menahan lapar dan haus selama berjam-jam, maka sangat disayangkan jika saat berbuka mereka tidak bisa menunda makan besar demi ibadah wajib.

Perilaku ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dari ibadah menjadi sekadar ritual pemuasan nafsu makan di malam hari. Sebagai penutup, Ustadz Khairunnasri mengajak pendengar untuk melakukan evaluasi mandiri terhadap kebiasaan selama Ramadan.

Perubahan kecil dalam perilaku berbuka puasa diharapkan dapat membawa dampak besar bagi kualitas ketakwaan dan kesehatan fisik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....