Puasa Menjadi Benteng Penghalang Siksa Api Neraka
- 09 Mar 2026 22:07 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – RRI Lhokseumawe menggelar program Dialog Ramadan pada Minggu, 8 Maret 2026. Acara yang disiarkan langsung melalui frekuensi 89,3 MHz dan kanal YouTube ini membahas puasa yang dapat menjadi perisai bagi umat Muslim dari siksa api neraka di akhirat kelak.
Hadir sebagai narasumber utama, Ustadz Tarmidzi Umar yang menjelaskan bahwa puasa memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Menurutnya, puasa bukan sekadar ritual menahan haus dan lapar, melainkan sebuah rahasia antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Hal inilah yang membuat pahala puasa tidak terbatas dan hanya diketahui oleh Allah sendiri sebagaimana termaktub dalam hadis qudsi.
Dalam pemaparannya, Ustaz Tarmidzi menekankan bahwa fungsi utama puasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu yang sering kali menjadi pintu masuk setan. Beliau menyebutkan bahwa syahwat manusia diperkuat melalui aktivitas makan dan minum yang berlebihan.
Dengan berpuasa, seseorang secara tidak langsung sedang mempersempit ruang gerak setan dalam memengaruhi hati dan pikiran manusia untuk berbuat maksiat.
"Puasa adalah benteng daripada api neraka sebagaimana benteng dalam peperangan. Dengan berpuasa, kita menahan syahwat yang mana neraka itu sendiri dipagari dengan segala bentuk syahwat duniawi," ujar Ustaz Tarmidzi dalam dialog tersebut.
Ia menambahkan bahwa puasa yang berkualitas akan mampu menjaga seseorang dari perbuatan dosa bahkan setelah bulan Ramadan berakhir.
Ustaz Tarmidzi juga merincikan tiga tingkatan puasa, yakni puasa orang awam, puasa khusus (khawas), dan puasa paling khusus (khawasul khawas).
Beliau menyayangkan fenomena puasa awam yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga tanpa pahala karena tidak menjaga anggota tubuh dari dosa. Golongan ini sering kali menjadikan malam hari sebagai ajang "balas dendam" makanan sehingga esensi pelemahan nafsu tidak tercapai.
Untuk mencapai tingkatan puasa yang berkualitas sebagai benteng dari neraka, Ustadz Tarmizi menyarankan agar setiap Muslim menjaga lima anggota tubuh utama, yaitu mata, lidah, telinga, perut, dan keinginan makan yang berlebihan.
Menjaga lidah dari dusta serta menjaga mata dari pandangan yang membangkitkan syahwat menjadi kunci utama agar puasa tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan yang tanpa makna spiritual.
Tausiah ini ditutup dengan sesi kuis interaktif yang diikuti oleh pendengar setia RRI Lhokseumawe. Melalui dialog ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan kualitas ibadahnya agar tidak terjebak pada tingkatan puasa awam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....