Membangun Karakter Generasi Digital Melalui Keteladanan Al-Quran
- 08 Mar 2026 06:42 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Ustadz Abdurrahman Yusuf menyoroti fenomena penurunan interaksi mendalam antara generasi muda dengan Al-Quran di tengah kepungan teknologi. Beliau menegaskan bahwa meskipun Al-Quran diturunkan ribuan tahun lalu, fungsinya sebagai "Syifa" atau obat penawar hati tetap tidak tergantikan oleh kecanggihan digital apa pun. Masalah terbesar saat ini bukanlah sulitnya mengakses Al-Quran, melainkan kurangnya rasa cinta dan keterikatan batin yang membuat banyak orang lebih betah menatap layar ponsel berjam-jam dibandingkan membaca kitab suci.
Dalam sebuah dialog inspiratif di Studio Pro 1 RRI Lhokseumawe, Sabtu 7 Maret 2026, Ustadz Abdurrahman menekankan bahwa kunci untuk menumbuhkan rasa cinta tersebut harus dimulai dari rumah melalui keteladanan orang tua. Beliau mengkritik fenomena orang tua yang menuntut anaknya menjadi penghafal Al-Quran di pesantren, namun di rumah sang anak justru melihat orang tuanya jarang menyentuh Al-Quran. "Sangat sulit mengharapkan anak mencintai Al-Quran jika mereka tidak melihat orang tua memberikan contoh nyata di rumah," tegasnya. Menurutnya, Al-Quran harus hadir sebagai bagian dari gaya hidup harian, bukan sekadar pelengkap ritual yang dibaca saat momen tertentu saja.
Dalam sudut pandang sosiologis, beliau memberikan contoh negara Mauritania di Afrika sebagai bukti nyata kekuatan Al-Quran. Meskipun secara ekonomi merupakan negara sederhana, masyarakatnya memiliki tingkat kebahagiaan yang sangat tinggi karena interaksi mereka dengan Al-Quran sangat luar biasa sejak usia dini. Di sana, Al-Quran bukan hanya dibaca, tetapi ditulis dan dihafal hingga mendarah daging. Hal ini membuktikan bahwa Al-Quran mampu menjadi fondasi mental yang kuat dalam menghadapi tekanan hidup, stres, dan kebingungan arah di zaman modern yang serba cepat ini.
Ustadz juga mengingatkan bahwa Al-Quran adalah mitra dialog harian antara hamba dengan Tuhannya. Bagi mereka yang merasa hidupnya penuh masalah, Al-Quran hadir sebagai "Map" atau peta jalan keluar yang selaras dengan fitrah manusia. Beliau menjelaskan bahwa syariat dalam Al-Quran tidak pernah memberatkan, justru aturan-aturan tersebut dibuat untuk melindungi keselamatan dan ketenangan jiwa manusia itu sendiri. Di era digital 2026 ini, Al-Quran tetap menjadi kompas yang paling akurat agar manusia tidak kehilangan identitas kemanusiaannya.
Menutup perbincangan, Ustadz Abdurrahman mengajak seluruh masyarakat Lhokseumawe untuk memanfaatkan sisa bulan Ramadan sebagai ajang "re-koneksi" dengan Al-Quran. Terutama menjelang 10 malam terakhir, beliau mengajak jamaah untuk beriktikaf di Masjid Baiturrahman sebagai bentuk maksimalisasi ibadah. Harapannya, kedekatan dengan Al-Quran yang dibangun selama Ramadan dapat terus berlanjut di luar bulan suci, sehingga Al-Quran benar-benar menjadi syafaat atau penolong utama, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....