Dinkes Aceh Utara Akan Perketat Pengawasan Takjil
- 01 Mar 2026 22:13 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara-Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh Utara memperketat pengawasan makanan dan minuman selama bulan suci Ramadan guna memastikan keamanan konsumsi masyarakat. Langkah ini dilakukan bersama tim Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui pemeriksaan langsung di lapangan menggunakan mobil laboratorium uji cepat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Aceh Utara, Samsul Bahri, mengungkapkan bahwa pada Ramadan sebelumnya pihaknya turun langsung bersama tim BPOM untuk melakukan uji sampel makanan di sejumlah titik penjualan takjil.
“Nah pada Ramadan yang kemarin kita bersama tim BPOM pusat, itu kita uji sampel langsung di lapangan. Karena di BPOM membawa mobil pemeriksaan makanan rapid test dan ada laboratorium langsung di tempat, sehingga hasilnya bisa langsung diketahui,” ujar Samsul, Minggu 1 Maret 2026.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, ditemukan sejumlah makanan yang mengandung zat berbahaya seperti boraks, formalin, serta pewarna mencolok yang tidak layak konsumsi. Bahkan, kata dia, beberapa produk juga terindikasi menggunakan bahan tambahan yang tidak sesuai peruntukannya.
“Hasil temuan kemarin sangat memprihatinkan. Masih ada jajanan yang mengandung zat berbahaya,” jelasnya.
Meski demikian, Samsul menegaskan bahwa pemerintah tidak langsung mengambil tindakan hukum terhadap pedagang. Pengawasan dilakukan dengan melibatkan lintas sektor seperti Satpol PP dan instansi terkait lainnya, namun pendekatan yang diutamakan adalah pembinaan dan edukasi.
| Baca juga: Safari Ramadhan Pemprov Aceh Santuni Yatim |
“Kita lebih pada pendekatan edukatif kepada pedagang agar tidak mengulangi lagi perbuatan yang membahayakan masyarakat. Kita juga memberikan solusi makanan sehat untuk produk-produk UMKM,” katanya.
Menurutnya, Ramadan menjadi momentum penting bagi perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku UMKM. Namun, aspek keamanan pangan tetap menjadi prioritas utama.
“Kita ingin denyut ekonomi tetap berjalan, terutama bagi ibu-ibu pelaku UMKM. Tapi makanan yang dijual harus benar-benar aman untuk masyarakat,” tegasnya.
Samsul menjelaskan, ciri-ciri awal makanan yang patut dicurigai mengandung bahan berbahaya antara lain teksturnya terlalu kenyal atau mengkilap, tahan lama tanpa dihinggapi lalat, serta warna yang terlalu mencolok dan tidak alami. Ia mencontohkan, formalin kerap ditemukan pada mi, bakso, atau siomay untuk membuat produk lebih awet.
“Kalau makanan terlalu mengkilap, tidak basi-basi, dan tidak dihinggapi lalat, itu sudah tanda-tanda awal yang perlu dicurigai. Tapi kepastiannya tetap melalui uji laboratorium,” ujarnya.
Untuk Ramadan tahun ini, Dinkes Aceh Utara berharap tim BPOM akan kembali turun melakukan pengawasan dan uji sampel di wilayah tersebut. Selain itu, pihaknya juga akan meningkatkan peran tenaga kesehatan lingkungan dalam memantau kebersihan dan higienitas pedagang, mulai dari proses pengolahan hingga penyajian.
“Kita edukasi pedagang agar makanan tidak dibiarkan terbuka, tidak terpapar debu, serta menggunakan sarung tangan atau penjepit saat mengambil makanan,” tambahnya.
Tak hanya pedagang, konsumen juga diimbau lebih selektif dalam memilih makanan berbuka puasa. Masyarakat diminta menghindari jajanan dengan warna mencolok dan tidak alami karena berpotensi mengandung bahan berbahaya yang dalam jangka panjang dapat memicu penyakit serius seperti kanker.
Dengan pengawasan terpadu dan kesadaran bersama, Dinkes Aceh Utara berharap kualitas dan keamanan pangan selama Ramadan dapat terjaga, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....