Tokoh Ulama Soroti Fenomena Bukber yang Kian Melenceng

  • 01 Mar 2026 13:35 WIB
  •  Lhokseumawe

RRai.CO.ID, Lhokseumawe - Tradisi buka puasa bersama atau bukber telah menjadi agenda tahunan masyarakat Indonesia setiap Ramadan. Selain sebagai momen berbagi hidangan setelah seharian berpuasa, kegiatan ini juga dimaknai sebagai ajang mempererat tali silaturahmi antar keluarga, sahabat, dan kolega.

Namun, Tokoh Ulama, Ustadz Mirza Gunawan, menilai praktik bukber belakangan ini mulai bergeser dari tujuan utamanya. Hal tersebut ia sampaikan dalam program Bincang Pagi Pro Satu RRI Lhokseumawe, Sabtu, 28 Februari 2026.

Menurut Ustadz Mirza, esensi buka puasa bersama adalah menjalankan anjuran agama untuk menyambung silaturahmi. Ia mengutip hadis Rasulullah yang menyebutkan bahwa siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya hendaknya menjaga hubungan kekerabatan. “Barang siapa yang ingin umurnya dipanjangkan dan rezekinya diluaskan, maka hendaknya ia menyambung tali silaturahmi,” ujarnya.

Ia menyayangkan fenomena bukber yang kini kerap diwarnai perilaku kurang tepat dan tidak sesuai syariat, seperti riya atau pamer ibadah, ajang unjuk kesuksesan, melalaikan kewajiban salat Magrib hingga kesempatan berbuat maksiat.

“Puasa tapi tidak salat Magrib. Ini sangat disayangkan karena salat dan puasa adalah sama-sama kewajiban,” tegasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti kebiasaan menyisakan makanan berlebihan yang berujung pada penumpukan sampah di fasilitas publik. Menurutnya, sikap tersebut bertentangan dengan nilai kesederhanaan dan kepedulian sosial yang seharusnya tumbuh selama Ramadan.

Sementara itu, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Lhokseumawe Aceh Utara, Mutia Sari, membagikan pengalaman berbeda tentang makna bukber. Ia bersama tim menggelar buka puasa bersama pengungsi korban bencana di Desa Lubuk Pusaka, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.

“Kami ke sana bukan untuk menjadi beban, tetapi untuk berbagi kebahagiaan meskipun dalam kondisi darurat tanpa air bersih dan listrik yang memadai,” ungkap Mutia. Ia menuturkan, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa bukber sejatinya bukan soal tempat mewah, melainkan tentang empati, kepedulian, dan rasa syukur di tengah keterbatasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....