Ramadan di Huntara: Berpuasa dalam Keterbatasan Pascabencana
- 21 Feb 2026 22:47 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe-Ramadan tahun ini dijalani dalam keterbatasan oleh ratusan warga terdampak bencana di wilayah Aceh Tengah, Aceh. Warga masih bertahan di hunian sementara (huntara) dengan fasilitas minim di tengah suasana bulan puasa ramadan.
Kondisi tersebut terungkap dalam program “Kurma” (Kisah Unik Ramadan) yang disiarkan RRI Pro Satu Lhokseumawe pada Jumat, 20 Februari 2026 kemarin. Khalida Zia, Founder organisasi non pemerintah yang fokus pada isu sosial dan pendidikan, Svara.org, mengungkapkan bahwa warga di lokasi bencana, seperti di Kecamatan Ketol, hingga kini masih kesulitan mengakses air bersih dan listrik.
Meski huntara mulai ditempati, sarana pendukung ibadah seperti tempat berwudu dan peralatan memasak belum memadai. Sebagian warga bahkan harus berjalan cukup jauh ke masjid hanya untuk mendapatkan air bersih.
“Kondisi Ramadan atau sebelum Ramadan tidak jauh berbeda di lokasi bencana. Masyarakat masih memprioritaskan bagaimana mereka bisa hidup hari demi hari,” ujar Khalida Zia yang aktif memberikan bantuan bagi korban bencana di saat sebelum dan selama ramadan.
Menurut amatannya selama menjadi relawan di lapangan, hampir tiga bulan usai bencana hidrometeorologi terjadi, warga Aceh Tengah belum pulih dan belum hidup layak. Banyak keluarga bahkan tidak memiliki perlengkapan memasak seperti kompor untuk menyiapkan santapan sahur dan berbuka, sehingga sangat bergantung pada bantuan logistik maupun uluran tangan kerabat.
Khalida juga menyoroti persoalan infrastruktur huntara yang dibangun secara darurat. Beberapa unit hunian masih terancam banjir kiriman dari lereng gunung saat hujan deras. Minimnya privasi karena hanya tersedia satu kamar untuk satu keluarga dikhawatirkan memicu persoalan sosial baru sekaligus menambah beban psikologis warga yang telah kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Selain itu, ketidakpastian ekonomi menjadi tantangan serius bagi para penyintas. Banyak warga kehilangan mata pencaharian karena lahan pertanian tertutup lumpur atau rusak akibat bencana ekologis. Kondisi tersebut, menurut Khalida, mulai memicu gesekan sosial dan memaksa sebagian anak-anak turun ke jalan demi membantu kebutuhan keluarga.
Meski berada dalam situasi sulit, Khalida menyaksikan ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi ujian. “Masyarakat sudah di titik merelakan, mereka berjuang bertahan hidup dengan kemampuan yang sangat terbatas tanpa banyak mengeluh lagi,” katanya. Ia menilai, sikap ikhlas dan solidaritas antarsesama menjadi kekuatan utama warga untuk bertahan selama Ramadan.
Khalida berharap pemerintah dan berbagai pihak segera mempercepat proses pemulihan, terutama penyediaan hunian tetap yang layak. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk menyalurkan bantuan berupa perlengkapan ibadah, perlengkapan mengaji bagi anak-anak, serta kebutuhan pokok agar beban para penyintas di pengungsian dapat sedikit teringankan selama bulan suci ramadan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....