Subsidi Daging Solusi Jaga Tradisi Meugang

  • 17 Feb 2026 12:16 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Tradisi Meugang di Aceh dinilai perlu dikelola secara bijak agar tidak menjadi beban ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Yulius Dharma, M.Si, dalam program Dialog Bincang Pagi RRI yang disiarkan RRI Pro Satu Lhokseumawe, Selasa 17 Februari 2026.

Dalam dialog bertajuk “Tradisi Meugang di Aceh” itu, Yulius menyoroti tingginya harga daging di Aceh yang mencapai Rp180 ribu per kilogram saat Meugang. Menurutnya, kondisi tersebut kerap memicu anggapan bahwa Meugang adalah tradisi mahal dan memberatkan masyarakat.

“Tradisi Meugang tidak boleh terkesan sebagai tradisi mahal yang memberatkan. Pemerintah perlu hadir melalui kebijakan subsidi daging agar masyarakat tetap dapat menjalankan budaya ini tanpa tekanan ekonomi,” ujar Yulius.

Ia menegaskan, esensi Meugang terletak pada kebersamaan dan pelestarian budaya, bukan semata pada jenis makanan yang dikonsumsi. Masyarakat yang tidak mampu membeli daging sapi, lanjutnya, dapat menggantinya (subsitusi) dengan ayam, bebek, atau udang tanpa mengurangi makna tradisi tersebut. Menurutnya, nilai-nilai Meugang tidak akan terkikis hanya karena perbedaan menu.

Lebih lanjut, Yulius mendorong pemerintah untuk memikirkan opsi jangka panjang guna menekan lonjakan harga daging setiap menjelang Meugang. Salah satunya dengan membangun atau mengelola tempat pembiakan sapi yang secara khusus dipersiapkan untuk kebutuhan Meugang dengan harga bersubsidi.

Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi strategi pengendalian inflasi musiman yang hampir selalu terjadi saat Meugang. Secara ekonomi, peningkatan permintaan (demand) dalam waktu singkat bisa menyebabkan harga melonjak di pasaran.

“Tradisi Meugang memang berpotensi meningkatkan inflasi karena permintaan yang tinggi. Namun, inflasi itu bisa dikendalikan jika pemerintah mampu mengatur pasokan melalui pembiakan sapi khusus yang disubsidi,” jelasnya.

Ia berharap sinergi antara pemerintah dan masyarakat dapat menjaga kelestarian tradisi Meugang tanpa menimbulkan beban ekonomi berlebihan. Dengan kebijakan yang tepat, Meugang tetap menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya Aceh yang terus terjaga dari generasi ke generasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....