Kisah Ferran Torres yang Bangkit dari Bangku Cadangan Bawa Spanyol Juara Dunia

  • 21 Jul 2026 22:37 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe: Seorang pemain cadangan mencatatkan sejarah bagi Spanyol. Gol semata wayangnya, mengantarkan Spanyol Juara Dunia.

Masuk sebagai pemain pengganti, pada laga Final Piala Dunia 2026 yang digelar 20 Juli 2026, pukul 02.00 WIB antara Spanyol vs Argentina. Bahkan ia tak pernah mencetak gol sebelumnya. Tapi saat negaranya paling membutuhkan, dia muncul dan menuliskan namanya di halaman sejarah.

Mungkin saja semua mata hanya tertuju pada Lionel Messi (Argentina) dan Lamine Yamal (Spanyol). Tapi seorang pemain cadangan justru masuk dan menciptakan sejarahnya sendiri.

Sepanjang perjalanan Piala Dunia hingga partai final, pemain ini tak sekalipun mencetak gol. Pernah membobol gawang Uruguay, tetapi dianulir VAR. Saat menghadapi Cape Verde, sepakannya hanya membentur tiang. Ketika melawan Arab Saudi, golnya kembali dibatalkan VAR.

Namun di partai final, satu-satunya gol yang ia cetak justru mengantarkan Spanyol kembali menjadi juara dunia.

Pemain itu adalah Ferran Torres.

Sejak peluit awal final Argentina melawan Spanyol dibunyikan, Torres hanya duduk di bangku cadangan menyaksikan rekan-rekannya bertarung. Sesekali ia berdiri, berteriak memberi semangat ketika Spanyol nyaris mencetak gol ke gawang Emiliano Martínez.

Tatapannya mengikuti setiap alur bola. Namun lebih dari itu, ia mengamati pertahanan Argentina. Di sana berdiri benteng kokoh yang dijaga Cristian Romero, Lisandro Martínez, Nicolás Tagliafico, hingga Rodrigo De Paul yang tak henti membantu lini belakang.

Walau Lamine Yamal dan kawan-kawan terus menggempur, pertahanan Argentina tetap disiplin. Hingga babak pertama usai dan sepuluh menit babak kedua berlalu, Spanyol tetap gagal mencetak gol meski menguasai jalannya pertandingan.

Lalu, tibalah giliran Torres.

Pelatih Luis de la Fuente memanggil namanya. Saat itulah kesabaran bertemu dengan kesempatan.

Torres tentu masih mengingat semua kritik sebelum final. Di tengah bersinarnya generasi muda Spanyol, namanya nyaris tenggelam. Nomor punggung tujuh yang dikenakannya bahkan menjadi bahan perdebatan. Ia bukan pilihan utama. Bukan starter. Bahkan sering dianggap tak lagi pantas menjadi bagian penting La Roja.

Tetapi Torres memilih satu hal yang tak banyak dimiliki orang: bersabar sambil terus bersiap.

Menit ke-63, ia masuk menggantikan Mikel Oyarzabal.

Lalu pada babak tambahan waktu, baru 37 detik berjalan, rangkaian serangan indah tercipta. Lamine Yamal mengalirkan bola kepada Pedro. Umpan kemudian dikirim ke tiang jauh. Nico Williams menanduk bola ke belakang, bola kembali ke tengah area kotak penalti. Kemudian, Bola itu jatuh di hadapan Torres.

Tanpa berpikir panjang, kaki kirinya menghantam bola dengan sangat kuat serta kecepatannya seperti kilat. Emiliano Martínez, penjaga gawang Argentina, tak mampu menjangkaunya.

Gol…!!!!!

Torres berlari menuju sudut lapangan, lalu menendang bendera pojok. Luapan emosinya pecah. Seorang pemain yang sepanjang turnamen hidup di bawah bayang-bayang, yang tak pernah menjadi pilihan pertama, akhirnya menulis sejarahnya sendiri.

Namanya kini sejajar dengan Andrés Iniesta, pencetak gol kemenangan Spanyol di final Piala Dunia 2010.

Piala Dunia memang dipenuhi para superstar.

Tetapi sejarah kadang tidak ditulis oleh mereka yang paling sering disorot. Sejarah justru lebih sering berpihak kepada mereka yang tetap bekerja dalam diam, tetap percaya ketika kesempatan belum datang, dan tetap siap ketika waktunya tiba.

Terkadang sejarah tak selalu ditulis oleh mereka yang memulai. Tapi oleh mereka yang menyelesaikan.

(Sebagian teks disalin dari #KopiAno motivasi dan inspirasi).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....