Melihat Lebih Dekat Keunggulan Delapan Tim Perempat Finalis Piala Dunia 2026
- 09 Jul 2026 22:23 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe: Menjelang babak perempat final Piala Dunia , FIFA menyoroti statistik kunci mengenai tim-tim yang masih bersaing di Amerika Utara.
Piala Dunia FIFA 2026 tengah memasuki fase-fase krusial terakhirnya. Dari 48 tim yang memulai kompetisi ini, hanya delapan tim yang masih bisa bermimpi untuk mengangkat trofi paling didambakan di dunia tersebut di New York/New Jersey Stadium pada 19 Juli mendatang.
Di kutip dari FIFA, berikut sepuluh data dan fakta keunggulan delapan tim yang masih bertahan di Amerika Utara:
1. Empat Tim Kembali untuk Pencapaian Lebih
Dari delapan perempat finalis di Qatar 2022, empat di antaranya berhasil mencapai babak ini lagi empat tahun kemudian: Argentina, Inggris, Prancis, dan Maroko.
Kala itu, hanya Inggris yang gagal melaju melampaui babak perempat final setelah ditaklukkan oleh Les Bleus.
Kedua finalis dari edisi 2022 masih bertahan di kompetisi ini pada bagan undian yang terpisah.
Hal ini berarti turnamen kali ini berpotensi menyajikan laga puncak yang sama dalam dua edisi berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Piala Dunia 1986 dan 1990, ketika Argentina dan Jerman Barat berhadapan di dua final secara beruntun.
2. Empat Negara Masih Memimpikan Kejayaan Perdana
Meskipun empat dari delapan perempat finalis pernah mengangkat trofi - Argentina (tiga gelar), Prancis (dua), Inggris, dan Spanyol (masing-masing satu), empat tim lainnya masih berburu mahkota juara dunia perdana mereka.
Belgia dan Maroko belum pernah melangkah lebih jauh dari babak semifinal. Swiss terakhir kali bermain di perempat final pada Piala Dunia di kandang mereka sendiri pada 1954.
Norwegia bahkan belum pernah melaju melampaui Babak 16 Besar sebelumnya. Oleh karena itu, edisi 2026 ini bisa menjadi momen bagi negara baru untuk meraih gelar juara dunia untuk pertama kalinya sejak penobatan Spanyol pada 2010.
3. Norwegia di Wilayah yang Belum Pernah Terjamah
Dari delapan negara yang masih bersaing, hanya ada satu yang akan merasakan Babak perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya: Norwegia.
Dikomandoi oleh Erling Haaland yang tampil luar biasa, tim asal Skandinavia ini menyingkirkan Brasil pada babak sebelumnya untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Sebaliknya, Inggris - lawan mereka berikutnya adalah tim yang paling sering tampil di tahap kompetisi ini (10 kali). Mereka diikuti oleh Prancis (sembilan), Argentina (delapan), Spanyol (lima), serta Belgia dan Swiss (tiga). Bagi Maroko, ini baru akan menjadi perempat final kedua mereka.
4. Pencapaian Perdana Lainnya bagi Maroko
Menjelang pertemuan reuni pada Kamis dengan rival mereka di semifinal 2022, Prancis, Maroko berhasil melanjutkan kesuksesan mereka di Qatar, di mana mereka menjadi tim Afrika pertama yang mencapai babak empat besar Piala Dunia.
Di Amerika Utara kali ini, tim Singa Atlas telah mencatatkan diri sebagai tim Afrika pertama yang mampu mencapai perempat final dalam dua edisi berturut-turut.
5. Eropa Pamerkan Enam Perwakilan
Selain satu tim dari Afrika, bagan perempat final ini diisi oleh satu negara Amerika Selatan dan enam tim Eropa. Komposisi jumlah ini sama dengan edisi Rusia 2018 dan satu lebih banyak dibandingkan dengan edisi Qatar 2022.
6. Separuh dari Para Juara Grup Masih Bertahan
Enam dari 12 juara grup masih dalam persaingan: Swiss (Grup B), Belgia (Grup G), Spanyol (Grup H), Prancis (Grup I), Argentina (Grup J), dan Inggris (Grup L).
Pengecualiannya hanya ada pada Maroko dan Norwegia, yang masing-masing finis sebagai peringkat kedua di Grup C dan Grup I.
Dengan demikian, tidak ada satu pun tim peringkat ketiga terbaik yang tersisa pada tahap turnamen ini. Faktanya, hanya satu dari tim-tim tersebut yang berhasil lolos ke babak sebelumnya - yakni Paraguay, yang takluk 1-0 dari Prancis.
7. Tingkat Kemenangan 100% Prancis di Waktu Normal
Di antara delapan tim yang masih bertahan di kompetisi ini, Prancis merupakan satu-satunya tim yang sukses memenangi kelima pertandingan turnamen mereka tanpa harus melalui babak tambahan waktu.
Argentina nyaris menorehkan rekor yang sama: mereka juga mengoleksi lima kemenangan, tetapi La Albiceleste membutuhkan 30 menit tambahan waktu untuk menaklukkan Tanjung Verde 3-2 di Babak 32 Besar.
Spanyol dan Inggris masing-masing telah merangkum empat kemenangan dan satu hasil imbang. Norwegia, satu-satunya tim yang masih bersaing namun pernah menelan kekalahan, memiliki rekor empat kemenangan dan satu kekalahan, yang diderita dari Prancis.
Sementara itu, Belgia, Maroko, dan Swiss masing-masing memiliki rekor yang sama, yakni tiga kemenangan dan dua hasil imbang.
8. Spanyol, Kekuatan yang Tak Tertembus
Spanyol memiliki perjalanan yang mengesankan menuju perempat final, terutama karena fakta bahwa lini pertahanan mereka belum mampu dibobol setelah lima pertandingan.
Mengingat edisi ini adalah yang pertama dalam sejarah yang menampilkan Babak 32 Besar, hal ini menandai pertama kalinya sejak Italia pada 1990 ada sebuah tim yang mencapai tahap kompetisi ini tanpa kebobolan satu gol pun.
Dalam hal jumlah kebobolan, mereka diikuti oleh Prancis (dua), Swiss (tiga), Maroko (empat), Inggris, Argentina, dan Belgia (lima), serta Norwegia (sembilan).
9. Daya Gedor Luar Biasa Prancis dan Argentina
Sekalipun jalan yang mereka lalui berbeda sejauh ini, kedua finalis edisi 2022 tersebut melangkah ke perempat final dengan berbekal rekor serangan yang tangguh.
Dikomandoi masing-masing oleh Kylian Mbappe dan Lionel Messi, Prancis dan Argentina sama-sama telah mencetak 14 gol di Amerika Utara, unggul satu gol di atas Belgia (13). Mereka disusul oleh Norwegia (12), Inggris (11), Maroko (10), dan terakhir Spanyol serta Swiss (masing-masing sembilan).
10. Perburuan Sepatu Emas Lebih Terbuka dari Sebelumnya
Pertarungan memperebutkan Sepatu Emas adidas menjanjikan tontonan menarik menjelang akhir turnamen ini.
Menjelang perempat final, tiga bintang terbesar di dunia sepak bola berbagi posisi terdepan - Lionel Messi dengan delapan gol, serta Kylian Mbappe dan Erling Haaland yang masing-masing mengoleksi tujuh gol.
Meskipun Messi dan Haaland masih bisa bermimpi untuk merebut takhta Mbappe yang memenangi penghargaan tersebut di Qatar, tepat di belakang mereka ada Harry Kane dengan koleksi enam gol, sang pemenang penghargaan pada edisi 2018.
Lebih jauh di belakang, Jude Bellingham dan Ousmane Dembele - masing-masing dengan empat gol - atau para pemain kejutan seperti Ismael Saibari dan Johan Manzambi (masing-masing tiga gol) akan berharap dapat memanfaatkan laga-laga tersisa untuk menambah pundi-pundi gol mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....