Antusiasme Menyongsong Piala Dunia 2026 dari Kacamata Penggemar

  • 13 Mei 2026 19:47 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseymawe – Demam sepak bola mulai menyelimuti para pencinta olahraga si kulit bundar seiring dengan semakin dekatnya perhelatan Piala Dunia 2026. Ajang bergengsi empat tahunan ini dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

Berbeda dari edisi sebelumnya, turnamen mendatang akan mencetak sejarah baru dengan format yang lebih besar dan luas, melibatkan 48 tim nasional dari berbagai belahan dunia.

Perhelatan kali ini juga terasa unik karena diselenggarakan secara kolaboratif di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim secara otomatis menambah volume pertandingan menjadi total 104 laga. Skala yang masif ini diprediksi akan memberikan pengalaman menonton yang lebih intens bagi para penggemar di seluruh dunia selama hampir 40 hari penuh.

Safrizal, seorang pencinta sepak bola asal Lhokseumawe, mengungkapkan bahwa perubahan format ini merupakan lompatan besar dalam sejarah Piala Dunia. Ia menilai penambahan tim memberikan kesempatan lebih luas bagi banyak negara, namun tetap memprediksi dominasi tim-tim besar. Menurutnya, negara dengan tradisi sepak bola kuat masih memiliki peluang paling besar untuk mengangkat trofi kemenangan.

"Jika kita melihat dari pengalaman sebelumnya, negara-negara seperti Argentina, Spanyol, Belanda, Jerman, dan Prancis tetap menjadi unggulan utama karena mereka adalah langganan juara. Untuk tim dari Asia, mencapai babak 32 atau 16 besar saja sudah merupakan apresiasi yang sangat luar biasa bagi perkembangan sepak bola mereka," ujar Safrizal dalam sesi wawancara bersama RRI Lhokseumawe dalam Program Deep Talk edisi Selasa, 12 Mei 2026 kemarin.

Lebih lanjut, Safrizal menekankan bahwa esensi dari Piala Dunia bukan sekadar memburu gelar juara, melainkan menjadi simbol persatuan global. Ia menyoroti pentingnya sportivitas dan penghapusan segala bentuk rasisme di dalam lapangan hijau.

Menurutnya, sepak bola memiliki kekuatan untuk mengesampingkan sentimen negatif dan konflik antarnegara, setidaknya selama pertandingan berlangsung. Mengenai euforia menonton, ia menyarankan agar masyarakat tetap menjaga ketertiban umum dan menghormati nilai-nilai lokal, terutama di daerah yang menerapkan syariat Islam.

Safrizal mengimbau agar kegiatan nonton bareng (nobar) tidak mengganggu kenyamanan tetangga atau melalaikan kewajiban ibadah. Ia juga mengingatkan agar para penggemar menjauhi praktik-praktik negatif seperti taruhan atau perjudian skor.

Sebagai penutup, ia berharap generasi muda dapat mengambil pelajaran positif dari teknik permainan dan kerja sama tim yang ditampilkan para pemain kelas dunia. Piala Dunia diharapkan tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga sarana edukasi mengenai nilai persahabatan. Meskipun di lapangan mereka berkompetisi sebagai lawan, namun setelah peluit akhir berbunyi, semua kembali menjadi sahabat dalam semangat olahraga.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....