Trauma Sekunder, Saat Hati Ikut Hancur Merasakan Bencana
- 18 Des 2025 15:53 WIB
- Lhokseumawe
KBRN,Lhokseumawe : Bencana memang tidak selalu menghancurkan tubuh kita. Terkadang yang hancur adalah hati kita, harapan kita, semangat hidup kita.
Kita mungkin tidak berada di tengah reruntuhan. Kita tidak kehilangan rumah. Kita tidak berlari menyelamatkan diri. Namun setiap hari, kita mendengar cerita kehilangan. Kita melihat mata yang kosong. Kita menyaksikan tangis yang tak lagi bersuara. Dan tanpa disadari, semua itu menetap di dalam diri.
Inilah yang disebut Trauma Sekunder. Menurut National Institute Of Health (NIH), paparan terhadap pengalaman traumatis orang lain dapat menyebabkan Traumatis Sekunder atau Stres Traumatis Sekunder (STS). Suatu kondisi yang terjadi akibat membantu atau ingin membantu individu yang mengalami trauma. Traumatisasi Sekunder menyerupai gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Traumatis Sekunder menjelaskan bahwa mereka yang bekerja dengan orang yang telah selamat dari trauma dapat mengalami ingatan yang mengganggu atau mimpi buruk yang berkaitan dengan peristiwa traumatis yang dikomunikasikan kepada mereka.
Trauma itu bisa datang dari mendengarkan dan merasakan kisah pilu orang lain. Trauma Sekunder bukan berasal dari kejadian yang kita alami sendiri, melainkan dari rasa empati yang terlalu dalam terhadap penderitaan orang lain. Dari kesediaan untuk mendengar, menemani, dan membersamai penderitaan.
Relawan Kemanusiaan, Tenaga kesehatan, Jurnalis, Pendamping korban, bahkan keluarga korban sendiri sering mengalaminya. Setiap cerita tentang anak yang kehilangan orang tuanya,setiap kisah rumah yang rata dengan tanah,setiap harapan yang pupus semuanya meninggalkan bekas.
Trauma Sekunder dalam gejala yang berat bisa membuat seseorang menangis tanpa tahu alasannya, merasa bersalah saat tertawa atau beristirahat, menarik diri dari orang-orang terdekat, merasa kosong, meski dikelilingi banyak orang. Ironisnya banyak yang tidak sadar bahwa mereka sedang terluka, karena fokus mereka hanya satu: membantu orang lain.
Manusiawi memang ketika kita memiliki rasa empati. Empati adalah kekuatan, tetapi tanpa batas, ia bisa menjadi beban. Menyelami luka orang lain terlalu dalam bisa membuat kita ikut tenggelam.
Trauma Sekunder bukan tanda kelemahan. Ia adalah tanda bahwa seseorang peduli dengan sepenuh hati. Berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Merawat kesehatan mental adalah bentuk keberanian.
Jika hatimu sudah terlalu lenyap dalam kesedihan berkepanjangan, ambillah jarak sejenak jika perlu. Istirahatkan hati yang terlalu sering mendengar duka. Dan jika rasa sesak tak juga hilang, carilah bantuan profesional karena tidak semua luka bisa disembuhkan sendirian.
Bencana meninggalkan puing-puing di tanah.Trauma Sekunder meninggalkan puing-puing di hati. Jika kamu adalah salah satu dari mereka yang diam-diam merasa lelah, kosong, atau terluka setelah menemani para korban bencana, ketahuilah satu hal: perasaanmu valid.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....