Benarkah Banyak Orang Suka Kopi, atau Hanya Suka Minuman Rasa Kopi?
- 30 Mei 2026 22:16 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Budaya ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup anak muda modern. Kedai kopi bermunculan di mana mana, foto gelas kopi memenuhi media sosial, dan diskusi tentang kopi sering menjadi simbol gaya hidup urban yang dianggap keren, santai, dan intelektual.
Namun ada satu fenomena menarik yang mulai sering dibahas: banyak orang mengaku pecinta kopi, tetapi minuman yang mereka pesan justru lebih mirip dessert daripada kopi.
Segelas minuman berisi espresso, susu, krim, saus karamel, gula aren, whipped cream, biskuit, atau berbagai topping lainnya tetap disebut kopi. Padahal dalam banyak kasus, rasa kopi itu sendiri justru hampir tidak terasa. Yang dominan adalah rasa manis, creamy, dan berbagai perisa tambahan yang membuat kopi menjadi lebih ramah bagi lidah kebanyakan orang.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang salah. Selera adalah sesuatu yang sangat personal. Tidak ada aturan bahwa seseorang harus menyukai espresso pahit atau kopi hitam tanpa gula agar boleh disebut penikmat kopi.
Yang menarik justru aspek sosial di baliknya.
Dalam kajian psikologi sosial, manusia sering mengonsumsi sesuatu bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena identitas yang melekat pada produk tersebut. Kopi bukan lagi sekadar minuman. Ia telah menjadi simbol gaya hidup, produktivitas, kreativitas, dan budaya urban modern.
Akibatnya, yang dicari kadang bukan kopinya, melainkan identitas sebagai "orang yang suka ngopi".
Fenomena ini mirip dengan orang yang membeli kamera mahal tetapi jarang memotret, memakai jersey klub tetapi jarang menonton pertandingan, atau mengoleksi buku yang belum tentu dibaca. Produk tersebut berfungsi sebagai simbol identitas sosial.
Di era media sosial, simbol simbol seperti ini menjadi semakin penting. Foto secangkir kopi di meja kayu estetik sering kali lebih berbicara tentang citra diri daripada tentang rasa minuman itu sendiri. Kopi menjadi bagian dari personal branding sehari hari.
Ironisnya, banyak orang yang mengaku tidak suka kopi hitam justru sangat menyukai minuman berbasis kopi yang telah dicampur berbagai bahan lain. Secara teknis mereka memang mengonsumsi kopi, tetapi pengalaman yang dicari lebih dekat ke rasa manis dan kenyamanan daripada karakter asli biji kopi itu sendiri.
Dalam dunia kopi, hal ini sering memunculkan perdebatan antara kelompok yang mengejar cita rasa kopi murni dengan mereka yang menikmati kopi sebagai minuman santai. Kelompok pertama berbicara tentang origin, roast profile, acidity, body, dan aroma. Kelompok kedua hanya ingin minuman yang enak diminum sambil bekerja atau nongkrong.
Masalahnya muncul ketika sebagian orang mulai menggunakan kopi sebagai alat untuk terlihat lebih berkelas atau lebih berpengetahuan daripada orang lain. Di titik itu, kopi berubah dari minuman menjadi aksesori sosial.
Padahal jika dipikirkan lebih jauh, tidak ada yang salah dengan menyukai kopi manis. Tidak ada yang salah dengan latte, cappuccino, atau gula aren. Yang lucu justru ketika seseorang menghabiskan waktu menjelaskan betapa ia pecinta kopi sejati, lalu minuman favoritnya ternyata memiliki lebih banyak gula daripada rasa kopi.
Mungkin pertanyaannya bukan apakah seseorang benar benar pecinta kopi. Pertanyaannya adalah "apakah yang disukai itu kopinya, atau seluruh citra dan gaya hidup yang ikut dijual bersama secangkir kopi?".
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....