Resiko Transfusi Darah bagi Pasien

  • 17 Sep 2024 18:52 WIB
  •  Lhokseumawe

Transfusi darah merupakan prosedur intervensi medis yang penting dan dapat menyelamatkan nyawa bagi orang yang membutuhkan. Ini dilakukan dengan memberikan darah kepada pasien melalui jalur intravena.

Transfusi darah umumnya dilakukan untuk menggantikan darah pasien yang hilang akibat kondisi tertentu seperti cedera, pendarahan, atau untuk menambah volume darah pasien akibat kondisi medis tertentu.

Pendonor akan melalui serangkaian pemeriksaan kesehatan untuk memastikan darah yang akan didonorkan steril atau bebas dari penyakit.

Darah dapat diberikan seutuhnya atau hanya komponen darah saja misalnya sel darah merah, plasma darah, albumin trombosit dan kriopresipitat. Proses transfusi darah umumnya memerlukan waktu 1-4 jam.

Memiliki manfaat banyak namun transfusi darah pun memiliki beberapa risiko atau efek samping. Maka prosedur ini perlu dilakukan dengan pertimbangan dan pengawasan medis yang tepat.

Dikutip dari artikel yang ditulis oleh dr. Patriotika Ismail, Sp. PD (Docter spesialis dalam RS EMC Cikarang) di laman @emc.healthcare, Berikut adalah risiko yang akan timbul dari proses transfusi darah:

1. Reaksi alergi

Pasien yang menerima transfusi darah bisa mengalami reaksi alergi baik alergi ringan seperti gatal atau ruam pada kulit maupun alergi berat seperti anafilaksis yaitu adanya keluhan bengkak pada bibir dan mata pusing, muntah, keringat dingin, gelisah, berdebar-debar, nyeri dada hingga hilang kesadaran.

2. Demam

Setelah beberapa jam menerima transfusi darah pasien bisa saja mengalami reaksi demam. Hal ini tidak selalu berbahaya namun jika demam disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak nafas, pingsan kondisi ini perlu mendapatkan penanganan medis oleh dokter.

3. Infeksi

Terdapat risiko kecil di mana pemeriksaan yang tidak mampu mendeteksi penyakit secara akurat sehingga pasien bisa tertular penyakit seperti HIV atau hepatitis B.

4. Kelebihan cairan dan zat besi

Transfusi darah juga dapat menyebabkan darah dalam tubuh kelebihan zat besi, terlebih jika darah yang diberikan dalam jumlah yang sangat banyak.

5. Reaksi hemolisis.

Reaksi ini dapat muncul beberapa hari setelah tindakan sehingga pasien harus memperhatikan jika terdapat gejala seperti kulit menjadi kuning urine berwarna gelap, disertai rasa lemas maka pasien harus segera memeriksakan diri ke dokter.

Dengan demikian, ingat lah saat Anda mengalami keluhan setelah menerima transfusi darah, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....