Dibalik Tren FOMO Olahraga Kekinian Hyrox
- 11 Jul 2026 10:09 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID,Lhokseumawe - Beberapa waktu terakhir, media sosial dipenuhi unggahan peserta yang mengenakan medali HYROX, membagikan catatan waktu, hingga momen menaklukkan lintasan di ajang HYROX Jakarta 2026.
Kompetisi kebugaran yang pertama kali hadir di Indonesia ini bukan sekadar lomba lari, melainkan perpaduan antara delapan kilometer lari dengan delapan stasiun latihan fungsional, seperti sled push, rowing, burpee broad jump, farmer's carry, dan wall ball. Format yang sama diterapkan di seluruh dunia sehingga hasil setiap peserta dapat dibandingkan secara global.
HYROX lahir pada 2017 atas gagasan Christian Toetzke dan Moritz Fürste dengan tujuan menghadirkan kompetisi yang dapat diikuti masyarakat umum, bukan hanya atlet profesional. Dalam beberapa tahun terakhir, popularitasnya melonjak pesat di berbagai negara dan kerap dijuluki sebagai "maraton dunia kebugaran".
Daya tarik utamanya terletak pada tantangan yang terukur, suasana kompetitif, serta komunitas yang mendorong peserta untuk terus memperbaiki performa. Di Indonesia, booming HYROX juga tidak lepas dari peran media sosial. Banyak figur publik, kreator konten, hingga kalangan profesional membagikan perjalanan latihan dan pencapaian mereka.
Fenomena ini kemudian memunculkan efek fear of missing out atau FOMO, yaitu perasaan takut tertinggal dari tren yang sedang berkembang. Tidak sedikit orang yang akhirnya mendaftar karena ingin menjadi bagian dari tren, memperoleh pengakuan sosial, atau sekadar memiliki konten untuk diunggah, bukan semata-mata karena kesiapan fisik maupun tujuan kesehatan.
Psikolog menjelaskan bahwa FOMO dipengaruhi oleh kebutuhan manusia untuk diterima dalam kelompok sosial. Media sosial memperkuat dorongan tersebut karena setiap pencapaian mudah terlihat dan dibandingkan.
Riset terbaru mengenai budaya kebugaran di media sosial juga menunjukkan bahwa algoritma cenderung memperkuat konten tubuh ideal dan pencapaian fisik memperoleh interaksi tinggi. Kondisi ini dapat memicu perbandingan sosial yang tidak sehat apabila tidak disikapi secara bijak.
Meski demikian, HYROX bukanlah tren yang harus dipandang negatif. Justru, kompetisi ini mampu memotivasi banyak orang untuk mulai berolahraga secara teratur, meningkatkan daya tahan tubuh, dan membangun disiplin.
Yang perlu dihindari adalah menjadikan olahraga sebagai ajang validasi sosial semata. Berolahraga seharusnya berorientasi pada kesehatan, bukan sekadar mengejar unggahan di media sosial atau mengikuti tren sesaat.
Hyrox juga didesain bukan untuk sembarang orang, namun khusus untuk mereka yang terlatih, siap dan kuat secara fisik. Jadi jangan memaksakan diri mengikuti Hyrox dalam kondisi tidak siap baik secara fisik bahkan mental.
Mengikuti kompetisi Hyrox tanpa persiapan fisik atau kardio yang matang sangat berbahaya. Efek samping bagi yang tak kuat meliputi jantung kolaps, hipertemia atau kepanasan ekstrem, Cidera sendi dan otot, hingga kelelahan ekstrem.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah mengikuti HYROX karena sedang populer. Namun, keputusan tersebut sebaiknya didasarkan pada kesiapan fisik, latihan yang memadai, dan tujuan hidup sehat yang berkelanjutan. Ketika motivasi berasal dari diri sendiri, manfaat yang diperoleh akan jauh lebih besar daripada sekadar kepuasan karena tidak merasa tertinggal dari tren.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....