Dokter Indra Ajak Masyarakat Cegah Gangguan Pendengaran Sejak Dini

  • 04 Jul 2026 20:28 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - RRI Lhokseumawe kembali menghadirkan program dialog interaktif Indonesia Sehat melalui Pro 1 pada Jumat, 3 Juli 2026 dengan mengangkat tema "Pencegahan Gangguan Pendengaran pada Masyarakat."

Dialog tersebut menghadirkan Dokter Senior Spesialis Telinga, Hidung, Tenggorokan, Bedah Kepala dan Leher (THT-KL) Rumah Sakit Cut Meutia, dr. Indra Zachreini, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.K(K), FISCM, sebagai narasumber. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan organ pendengaran sejak dini.

Dalam pemaparannya, dr. Indra menjelaskan bahwa sebagian besar kasus gangguan pendengaran sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat memiliki pengetahuan dasar yang memadai. Menurutnya, penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga kebersihan telinga, serta menghindari kebiasaan yang berisiko menjadi langkah penting untuk mempertahankan fungsi pendengaran.

Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap upaya pencegahan. Kebiasaan mengorek telinga, mendengarkan musik dengan volume tinggi dalam waktu lama, hingga paparan kebisingan tanpa menggunakan pelindung telinga menjadi faktor yang menyebabkan kasus gangguan pendengaran masih cukup banyak ditemukan di wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara.

"Pencegahan gangguan pendengaran di masyarakat harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti membatasi volume audio saat menggunakan headset. Terapkan metode 60:60, yaitu batasi volume suara pada 60 persen dan gunakan headset tidak lebih dari 60 menit. Jangan biasakan tidur dengan headset yang masih terpasang di telinga," ujar dr. Indra.

Selain menerapkan kebiasaan yang sehat, dr. Indra juga mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mulai merasakan penurunan kemampuan mendengar, nyeri telinga, atau keluhan lain yang tidak biasa.

Menurutnya, deteksi dini sangat penting untuk mencegah gangguan pendengaran berkembang menjadi kondisi yang lebih serius dan sulit ditangani. Ia mengaku prihatin masih banyak masyarakat usia muda yang harus menggunakan alat bantu dengar akibat kurangnya perhatian terhadap kesehatan telinga. Karena itu, edukasi yang berkelanjutan dinilai menjadi salah satu langkah efektif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga fungsi pendengaran.

Di akhir dialog, dr. Indra berharap pemerintah dapat memperkuat layanan kesehatan melalui penyediaan peralatan medis yang lebih lengkap di rumah sakit kabupaten dan kota.

Menurutnya, masih terdapat sejumlah kasus yang harus dirujuk ke rumah sakit provinsi karena keterbatasan fasilitas. Ia optimistis angka gangguan pendengaran dapat terus ditekan seiring meningkatnya pengetahuan masyarakat serta kualitas pelayanan kesehatan yang semakin baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....