Mengapa Ibu Sering Mengalami Brain Fog?

  • 20 Jun 2026 13:58 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI CO ID,Lhokseumawe - Pernahkah seorang ibu bolak balik keluar masuk rumah hanya karena ragu telah mengunci pintu atau tidak? Atau selalu lupa menaruh barang dimana, tiba tiba blank sejenak dan tidak nyambung ketika diajak bicara? atau bisa jadi masuk ke sebuah ruangan lalu lupa tujuan awalnya untuk apa dan berbagai gangguan konsentrasi lainnya seperti sulit fokus saat bekerja.

Kondisi ini dikenal sebagai brain fog, istilah yang digunakan untuk menggambarkan gangguan kognitif sementara berupa sulit fokus, mudah lupa, lambat berpikir, dan menurunnya kejernihan mental. Kondisi ini pula sangat lazim terjadi pada perempuan, atau seorang Ibu.

Meski bukan diagnosis medis resmi, fenomena ini nyata dan banyak dialami perempuan, terutama pada masa kehamilan, pascamelahirkan, hingga menjelang menopause.

Para ahli menjelaskan bahwa salah satu penyebab utama brain fog pada ibu adalah perubahan hormon. Selama kehamilan dan setelah melahirkan, kadar estrogen dan progesteron mengalami fluktuasi besar yang dapat memengaruhi fungsi otak, termasuk memori, perhatian, dan kemampuan mengambil keputusan.

Selain itu, masa menjadi orang tua baru sering disertai kurang tidur kronis, stres, serta beban mental yang tinggi akibat mengurus anak dan keluarga. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat banyak ibu merasa lebih pelupa dan sulit berkonsentrasi.

Fenomena serupa juga banyak ditemukan pada perempuan usia paruh baya yang memasuki premenopause dan menopause. Dalam panduan yang diterbitkan di jurnal Climacteric, profesor psikiatri dan kesehatan perempuan Pauline Maki menjelaskan bahwa keluhan kognitif pada masa transisi menopause merupakan hal yang umum terjadi.

Penurunan kadar estrogen diketahui dapat memengaruhi area otak yang berperan dalam memori dan perhatian. Akibatnya, perempuan sering mengalami kesulitan menemukan kata yang tepat, lupa janji, atau merasa tidak setajam biasanya saat berpikir.

Penelitian yang dirangkum oleh Harvard Health juga menunjukkan bahwa tingkat keparahan brain fog sering berkaitan dengan kualitas tidur, suasana hati, dan gejala menopause lainnya.

Dengan kata lain, masalah kognitif yang dirasakan tidak semata-mata berasal dari faktor usia, melainkan hasil interaksi kompleks antara perubahan biologis dan psikologis.

Kabar baiknya, sebagian besar kasus brain fog bersifat sementara dan tidak identik dengan demensia. Peneliti dari King’s College London bahkan menemukan bahwa gejala tersebut umumnya tidak menimbulkan penurunan fungsi kognitif jangka panjang.

Pola tidur yang lebih baik, aktivitas fisik teratur, pengelolaan stres, serta konsultasi medis bila gejala mengganggu dapat membantu memperbaiki kondisi ini. Dengan memahami penyebabnya, masyarakat dapat melihat bahwa brain fog bukan sekadar “lupa biasa” atau tanda kelemahan seorang ibu.

Sebaliknya, kondisi ini merupakan respons biologis dan psikologis yang wajar terhadap berbagai perubahan besar yang dialami perempuan sepanjang hidupnya. Jadi, tak perlu khawatir.

Kondisi ini biasanya akan berkurang dengan seiring waktu seiring kembali normalnya kondisi yang dialami perempuan. Misal seperti ketika anak sudah tumbuh besar, beban di rumah dan pekerjaan sudah berkurang, sudah bisa merawat diri lagi, sehingga hormon mulai stabil, beban pikiran maupun mental hilang, maka brain fog juga akan sirna secara perlahan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....