Puskesmas Tanah Jambo Aye Gencarkan Skrining Tuberkulosis

  • 01 Apr 2026 17:18 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID,Aceh Utara - Kepala Puskesmas Tanah Jambo Aye, Yusriadi, menyampaikan bahwa penyakit Tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Bahkan, Indonesia saat ini menempati posisi kedua dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia. TB merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang umumnya menyerang paru-paru dan mudah menular dalam lingkungan keluarga.

Menurut Yusriadi, risiko penularan TB sangat tinggi, terutama jika ada satu anggota keluarga yang terinfeksi. Oleh karena itu, Puskesmas Tanah Jambo Aye terus menggencarkan upaya pencegahan dan deteksi dini melalui skrining aktif, baik di dalam maupun di luar gedung pelayanan kesehatan.

“Di dalam gedung, pasien yang datang dengan gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk berdarah, penurunan berat badan, dan hilangnya nafsu makan akan langsung diarahkan untuk pemeriksaan laboratorium,” ujar Yusriadi, Selasa, 1 April 2026.

Ia menjelaskan, Puskesmas Tanah Jambo Aye telah dilengkapi alat Tes Cepat Molekuler (TCM), yang mampu mendeteksi TB hanya dalam waktu kurang dari dua jam. Dengan alat ini, diagnosis dapat dilakukan lebih cepat sehingga penanganan pasien juga bisa segera dilakukan.

Setelah pasien dinyatakan positif TB, tim medis akan memberikan edukasi terkait bahaya dan penularan penyakit tersebut. Pasien kemudian diwajibkan menjalani pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) selama enam bulan. Dua bulan pertama merupakan fase intensif dengan kombinasi beberapa obat, dilanjutkan fase lanjutan selama empat bulan.

“Pengobatan harus dilakukan secara teratur. Jika pasien lalai, dapat menyebabkan resistensi obat yang membuat penyakit semakin sulit disembuhkan,” jelasnya.

Untuk memastikan kepatuhan pasien, pihak puskesmas juga menunjuk Pengawas Minum Obat (PMO), yang biasanya berasal dari anggota keluarga terdekat pasien.

Selain pelayanan di dalam gedung, Puskesmas Tanah Jambo Aye juga melakukan skrining lapangan. Tim kesehatan turun langsung ke masyarakat untuk memeriksa anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien TB.

“Kalau ada satu anggota keluarga yang terdiagnosis TB, maka seluruh anggota keluarga akan kami skrining untuk mencegah penularan lebih luas,” tambah Yusriadi.

Ia juga mengakui masih adanya stigma di masyarakat terkait penyakit TB. Banyak warga yang merasa malu atau minder jika diketahui mengidap TB. Untuk itu, pihak puskesmas menggunakan pendekatan komunikasi yang lebih sederhana agar masyarakat tidak merasa dijauhi.

Yusriadi berharap dengan peningkatan skrining dan edukasi yang masif, angka penularan TB di wilayah Tanah Jambo Aye dapat ditekan serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengobatan yang tuntas semakin meningkat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....