Cut Off Orang Lain demi Kesehatan Mental, Perlukah?

  • 28 Feb 2026 21:26 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Fenomena cut off atau memutus hubungan dengan seseorang semakin sering dibicarakan dalam konteks kesehatan mental. Tindakan ini umumnya dilakukan untuk melindungi diri dari relasi yang dianggap toksik, manipulatif, atau merugikan secara emosional.

Hubungan interpersonal memiliki peran penting dalam kesejahteraan psikologis. Menurut teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby, manusia secara alami membutuhkan hubungan yang aman dan suportif. Namun, tidak semua relasi memberikan dampak positif.

Hubungan yang penuh konflik, kekerasan verbal, manipulasi, atau pengabaian emosional dapat memicu stres kronis, kecemasan, hingga depresi. Dalam kondisi inilah, cut off sering dipilih sebagai bentuk perlindungan diri.

Secara psikologis, cut off merujuk pada pemutusan komunikasi atau interaksi secara total dengan individu tertentu. Konsep ini memiliki kemiripan dengan istilah emotional cutoff dalam teori sistem keluarga yang diperkenalkan oleh Murray Bowen.

Bowen menjelaskan bahwa individu terkadang mengambil jarak ekstrem untuk mengurangi kecemasan dalam hubungan yang intens atau penuh tekanan. Dalam situasi relasi yang abusif atau toksik, cut off dapat memberikan ruang aman bagi individu untuk memulihkan diri.

Penelitian dalam psikologi klinis menunjukkan bahwa menjauh dari sumber stres interpersonal dapat menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan regulasi emosi.

Bagi korban kekerasan emosional, batasan tegas bahkan menjadi langkah penting dalam proses penyembuhan. Dalam konteks ini, cut off bukan bentuk pelarian, melainkan strategi proteksi diri.

Meski demikian, keputusan memutus hubungan tidak selalu menyelesaikan akar masalah. Dalam beberapa kasus, cut off dilakukan secara impulsif tanpa komunikasi yang jelas. Hal ini dapat menimbulkan rasa bersalah, konflik batin, atau isolasi sosial.

Bowen menekankan bahwa emotional cutoff sering kali hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Individu mungkin menghindari konflik, tetapi pola relasional yang tidak sehat bisa terulang dalam hubungan lain.

Sebelum memutuskan cut off seseorang, penting mempertimbangkan strategi lain seperti komunikasi asertif, penetapan batas (boundaries), atau konseling. Pendekatan ini memungkinkan penyelesaian konflik secara lebih konstruktif.

Dalam psikologi positif, relasi yang sehat ditandai dengan adanya rasa aman, saling menghormati, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara dewasa. Jika perubahan masih mungkin terjadi, dialog terbuka sering menjadi langkah awal yang lebih adaptif.

Cut off demi kesehatan mental dapat menjadi langkah yang perlu dalam situasi hubungan yang abusif atau membahayakan kesejahteraan psikologis.Namun, keputusan tersebut sebaiknya diambil secara reflektif, bukan reaktif.

Dalam banyak kasus, penguatan batas pribadi dan komunikasi efektif dapat menjadi solusi yang lebih seimbang. Dengan demikian, cut off bukanlah satu-satunya jawaban, melainkan salah satu opsi yang perlu dipertimbangkan secara matang berdasarkan konteks dan tingkat risiko hubungan tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....