Takjil Tradisional Aceh Tergerus Tren Modern
- 23 Feb 2026 15:57 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Sore Ramadan di Aceh selalu menghadirkan pemandangan khas: deretan penjual takjil memenuhi pinggir jalan, menawarkan aneka warna dan rasa yang menggoda. Namun di balik semarak itu, terselip kegelisahan.
Takjil yang dulu identik dengan kearifan lokal kini perlahan berganti rupa dipenuhi jajanan modern, produk kemasan berlabel asing, hingga tren kuliner media sosial yang belum tentu sehat.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat pada Instalasi Gizi RSU Cut Meutia. Ia menilai, masyarakat mulai meninggalkan takjil tradisional seperti bubur kanji rempah yang dahulu dimasak bersama di meunasah, serta aneka kue rumahan seperti timphan, boh rom-rom, bingkang, dan putroe manoe yang kaya cita rasa alami.
Menurutnya, derasnya promosi makanan kekinian membuat banyak ibu rumah tangga dan generasi muda tergoda mencoba menu seperti chicken katsu, beef bulgogi, hingga minuman boba tinggi gula. Padahal, anjuran berbuka dengan yang manis bukan berarti berlebihan. Ia menyarankan berbuka diawali air putih, lalu tiga butir kurma untuk mengembalikan energi secara bertahap.
Sri Mulyati juga mengingatkan pentingnya membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai prinsip G4G1L5 dari Kementerian Kesehatan. Gorengan, makanan terlalu pedas, asam, atau tinggi garam sebaiknya dihindari karena dapat mengganggu pencernaan saat perut kosong.
Ia berharap masyarakat kembali memanfaatkan rempah alami dan memilih metode memasak sehat seperti mengukus, merebus, atau memanggang. Dengan memilih takjil sehat dan bergizi seimbang, Ramadan tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga kesempatan menjaga kesehatan keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....