Waspadai Depresi Anak Sejak Dini, Kenali Tandanya

  • 05 Feb 2026 05:34 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Depresi pada anak kerap luput dari perhatian karena sering dianggap sekadar perubahan suasana hati. Padahal, kondisi ini bisa berdampak serius pada tumbuh kembang, prestasi belajar, hingga relasi sosial anak. Orang tua dan lingkungan perlu peka terhadap perubahan perilaku yang berlangsung cukup lama dan mengganggu aktivitas harian anak.

Psikolog klinis anak dan remaja, dr. Rani Safitri, M.Psi., menjelaskan depresi pada anak dapat ditandai dengan kesedihan berkepanjangan, mudah marah, menarik diri dari pergaulan, serta kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai. “Anak juga bisa tampak lebih lelah, sulit berkonsentrasi, mengalami perubahan pola tidur dan makan, serta mengeluh sakit fisik tanpa sebab medis yang jelas,” ujarnya.

Menurut dr. Rani, pemicu depresi pada anak beragam, mulai dari tekanan akademik, perundungan, konflik keluarga, hingga perubahan besar dalam hidup seperti pindah sekolah atau kehilangan figur penting. Faktor biologis dan riwayat keluarga juga berperan. Karena itu, deteksi dini sangat penting agar anak mendapatkan dukungan yang tepat dan berkelanjutan.

Pengalaman serupa dibagikan Nurhayati, orang tua di Lhokseumawe, yang menyadari perubahan pada anaknya saat nilai sekolah menurun dan anak menjadi lebih pendiam. “Awalnya kami kira hanya fase biasa. Tapi setelah berlangsung berbulan-bulan dan anak sering mengeluh capek, kami memutuskan berkonsultasi,” tuturnya. Langkah itu, menurut Nurhayati, membantu keluarga memahami kebutuhan anak dan cara mendampingi dengan lebih empatik.

Ahli menekankan peran orang tua untuk membuka komunikasi yang aman dan tidak menghakimi. Mendengarkan keluhan anak, menjaga rutinitas sehat, serta bekerja sama dengan sekolah dapat menjadi langkah awal. Jika gejala menetap atau memburuk, konsultasi dengan tenaga profesional dianjurkan untuk penilaian dan penanganan yang sesuai usia.

Dengan kewaspadaan dan dukungan bersama, depresi pada anak dapat dikenali lebih cepat dan ditangani secara tepat. Lingkungan yang peduli, komunikasi hangat, serta akses ke layanan kesehatan mental menjadi kunci agar anak kembali merasa aman, didengar, dan mampu berkembang secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....