Mahasiswa Pendidikan Fisika Unimal Belajar Meteorologi di BMKG Malikussaleh
- 03 Agt 2026 23:11 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Aceh Utara – Sebanyak 28 mahasiswa semester VI Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Malikussaleh (Unimal), mengikuti kunjungan edukatif ke Stasiun Meteorologi BMKG Malikussaleh, Aceh Utara.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Fisika Kebumian dan Antariksa yang bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.
Kunjungan ini didampingi Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Unimal, Munzir Absa M.Si, bersama dosen pengampu mata kuliah, Syafrizal M.Si. Pembelajaran lapangan tersebut merupakan implementasi pendekatan Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan pencapaian kompetensi melalui pengalaman belajar autentik.
Selama berada di Stasiun Meteorologi BMKG Malikussaleh, mahasiswa memperoleh kesempatan menghubungkan teori mengenai cuaca, iklim, dan dinamika atmosfer yang dipelajari di ruang kuliah dengan praktik pengamatan meteorologi secara langsung.
Pada sesi lapangan, mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok dan didampingi praktisi BMKG untuk mempelajari berbagai instrumen meteorologi. Mereka dikenalkan dengan sangkar meteorologi yang berfungsi melindungi alat pengukur suhu udara dari paparan sinar matahari dan hujan secara langsung, sekaligus mempelajari penggunaan termometer bola kering, termometer bola basah, termometer maksimum, dan termometer minimum.
Selain itu, mahasiswa mempraktikkan penggunaan penakar hujan manual dan otomatis, mengamati alat pengukur lama penyinaran matahari Campbell-Stokes, evaporimeter panci terbuka untuk mengukur laju penguapan, anemometer sebagai pengukur kecepatan dan arah angin, hingga Automatic Weather Station (AWS) yang mampu merekam berbagai parameter cuaca secara otomatis dan waktu nyata.
Dalam sesi praktik, mahasiswa juga berkesempatan melakukan pengukuran menggunakan penakar hujan manual. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa data curah hujan yang dipublikasikan kepada masyarakat diperoleh melalui prosedur pengamatan, pengukuran, dan pencatatan yang sistematis.
Usai praktik lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan materi di ruang kelas. Praktisi BMKG menjelaskan konsep dasar cuaca dan iklim, proses pengamatan atmosfer, serta fenomena El Niño, La Niña, dan El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Materi disampaikan menggunakan berbagai peta cuaca dan iklim sehingga mahasiswa dapat memahami keterkaitan perubahan suhu permukaan laut, pola curah hujan, dan dinamika atmosfer terhadap kondisi cuaca di suatu wilayah.
Diskusi berlangsung interaktif ketika salah seorang mahasiswa, Fatin Nabila, menanyakan penyebab cuaca di Aceh Utara yang terasa jauh lebih panas dan kering dalam beberapa bulan terakhir.
Menjawab pertanyaan tersebut, Pelaksana Harian Kepala Stasiun Meteorologi Malikussaleh, Kharendra Muiz, menjelaskan bahwa kondisi tersebut didukung oleh data pengamatan BMKG. Sepanjang Juni 2026, akumulasi curah hujan di Aceh Utara hanya mencapai 52,5 milimeter atau masuk kategori rendah. Memasuki Juli 2026, curah hujan bahkan turun drastis menjadi hanya 3,6 milimeter.
"Penurunan curah hujan tersebut diikuti peningkatan suhu udara maksimum harian yang mencapai 36,4 derajat Celsius pada 28 Juli 2026," jelasnya.Senin 3 Agustus 2026.
Menurut Kharendra, secara klimatologis Aceh memang sedang memasuki puncak musim kemarau yang berlangsung pada Juni hingga Agustus. Namun, kemarau tahun ini terasa lebih panas dan lebih kering akibat diperkuat oleh fenomena El Niño.
Ia menjelaskan bahwa hasil pemantauan suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 pada pertengahan Juli 2026 menunjukkan anomali sebesar +2,26 derajat Celsius yang menandakan El Niño berada pada kategori kuat. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan sehingga berpotensi menyebabkan musim kemarau lebih panjang, curah hujan semakin rendah, dan suhu udara meningkat di atas kondisi normal, termasuk di wilayah Aceh Utara.
Dosen pengampu mata kuliah, Syafrizal, mengatakan kegiatan lapangan memberikan pengalaman belajar yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas.
"Mahasiswa tidak hanya mengenal bentuk dan fungsi berbagai instrumen meteorologi, tetapi juga memahami bagaimana proses pengamatan, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan prakiraan cuaca dilakukan. Dengan demikian, teori yang dipelajari di kelas dapat dipahami secara lebih utuh melalui praktik di lapangan," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Unimal, Munzir Absa, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen program studi dalam menghadirkan pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....