Haji Uma Dipercaya Jadi Dosen Praktisi di UNAS Jakarta
- 30 Apr 2026 16:39 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman Haji Uma, S Sos, M.Sos atau yang lebih akrab disapa Haji Uma, dipercaya menjadi dosen praktisi untuk mata kuliah Politik Lokal dan Pemilu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS), Jakarta. Kamis, 30 April 2026.
Haji Uma bukanlah sosok asing bagi kampus tersebut. Ia merupakan alumni Universitas Nasional yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di bidang Ilmu Politik. Latar belakang akademik serta pengalaman panjang sebagai senator menjadi nilai tambah dalam mengintegrasikan teori akademik dengan praktik nyata di dunia politik.
Keterlibatan Haji Uma dalam perkuliahan ini merupakan bagian dari upaya UNAS menghadirkan pengalaman langsung dari pelaku politik ke ruang kelas, guna menjembatani celah antara teori dan realitas lapangan.
Dalam suasana kelas yang interaktif, Haji Uma memaparkan materi terkait peta politik elektoral dengan menyoroti dinamika yang terjadi di Aceh pada dua momentum besar, yakni Pemilu 2019 dan Pemilu 2024. Ia menekankan bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam sistem politik nasional.
"Aceh memiliki karakter politik yang berbeda dibandingkan daerah lain. Kehadiran partai lokal menjadi warna tersendiri dalam kontestasi politik karena memiliki basis historis dan kedekatan emosional yang kuat dengan masyarakat," jelas Haji Uma di hadapan mahasiswa.
Ia menguraikan bahwa pada Pemilu 2019, kecenderungan politik masyarakat Aceh masih sangat dipengaruhi oleh faktor identitas dan peran elite politik. Namun, menjelang Pemilu 2024, mulai terlihat pergeseran pola pikir pemilih ke arah yang lebih rasional.
"Saat ini kita melihat pemilih mulai berubah. Mereka tidak lagi sekadar ikut-ikutan, tetapi mulai menimbang kapasitas kandidat, program kerja, dan kinerjanya. Ini adalah perkembangan positif bagi demokrasi kita," tambahnya.
Lebih lanjut, Haji Uma menekankan pentingnya pemetaan politik sebagai instrumen untuk membaca arah kekuatan dalam kontestasi. Dengan pemetaan yang matang, aktor politik dapat memahami basis dukungan, karakter pemilih, hingga isu strategis yang berkembang di masyarakat.
"Mahasiswa harus memiliki cara pandang kritis dan tidak hanya melihat permukaan saja. Politik harus dipahami secara utuh, baik dari sisi teori maupun praktik," tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Jurusan Ilmu Politik UNAS, Rahmad Sufajar, S.IP., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kesediaan Haji Uma berbagi ilmu. Ia menilai keterlibatan praktisi sangat krusial dalam memperkaya wawasan mahasiswa.
"Mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pemahaman langsung dari pelaku lapangan. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut guna mencetak generasi muda yang kritis dan mampu memahami dinamika politik, baik di tingkat lokal maupun nasional," harap Rahmad.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....