Alam Semesta Ini Mungkin Tidak Nyata… Ini Alasannya

  • 20 Apr 2026 21:13 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe -Gagasan bahwa realitas mungkin tidak sepenuhnya “nyata” sering terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, ketika sains modern menyelami dunia paling dasar dari materi, muncul fakta yang justru semakin mengaburkan batas antara nyata dan tidak nyata.

Dalam kajian fisika kuantum, realitas tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang solid dan pasti. Di tingkat mikroskopis, materi tidak bersifat tetap, melainkan probabilistik. Partikel tidak selalu memiliki posisi atau bentuk yang jelas sampai ia “diukur” atau diamati.

Jika kita memecah materi hingga ke tingkat paling dasar, kita akan menemukan quark partikel elementer yang menjadi penyusun proton dan neutron. Namun, quark bukanlah “benda” dalam pengertian sehari hari. Ia tidak bisa berdiri sendiri secara bebas, tidak bisa diamati secara langsung, dan eksistensinya lebih sering dipahami melalui efek yang ditimbulkannya.

Yang membuatnya semakin aneh, sifat quark tidak menyerupai objek fisik biasa. Mereka tidak memiliki bentuk yang bisa dibayangkan, tidak “padat”, dan keberadaannya dijelaskan melalui model matematis serta interaksi energi. Dengan kata lain, sesuatu yang tampak seperti “tidak nyata” justru menjadi fondasi dari semua yang kita anggap nyata.

Fenomena ini menunjukkan paradoks, segala sesuatu yang bisa kita sentuh, meja, tubuh, bahkan planet, tersusun dari entitas yang secara intuitif hampir tidak bisa dibayangkan sebagai “benda”. Realitas yang kita alami sehari hari hanyalah hasil dari interaksi kompleks di tingkat yang jauh lebih abstrak.

Berdasarkan berbagai kajian dalam fisika modern yang dilansir dari berbagai sumber, apa yang kita sebut sebagai “materi” sebenarnya sebagian besar adalah ruang kosong, dengan energi dan gaya yang mengikat partikel partikel kecil tersebut. Sensasi padat yang kita rasakan bukan karena benda itu benar benar solid, tetapi karena interaksi gaya di antara partikel.

Hal ini membuka pertanyaan yang lebih dalam: apakah realitas yang kita rasakan hanyalah interpretasi dari otak terhadap fenomena yang jauh lebih kompleks? Jika dasar dari segala sesuatu adalah entitas yang tidak dapat dilihat, disentuh, atau dibayangkan secara langsung, maka “kenyataan” bisa jadi hanyalah konstruksi dari persepsi manusia.

Meski demikian, mengatakan bahwa alam semesta “tidak nyata” bukan berarti ia tidak ada. Lebih tepatnya, realitas mungkin tidak sesederhana yang kita bayangkan. Apa yang tampak solid dan pasti di permukaan, ternyata berdiri di atas fondasi yang sangat abstrak, probabilistik, dan sulit dipahami secara intuitif.

Semakin dalam sains menggali, semakin terlihat bahwa realitas bukan hanya tentang apa yang terlihat, tetapi juga tentang apa yang tersembunyi di baliknya, sesuatu yang mungkin selalu ada, tetapi tidak pernah benar benar bisa kita pahami sepenuhnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....