Mengenal Fast Fashion Yang Diam-Diam Merusak Lingkungan

  • 21 Okt 2025 10:45 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Fast Fashion adalah tren industri pakaian yang mengedepankan produksi pakaian secara cepat dan massal dengan harga yang terjangkau. Merek-merek fast fashion sering kali menghadirkan koleksi baru setiap minggu atau bulan, mendorong konsumen untuk terus membeli pakaian baru dan membuang yang lama.

Meskipun tren ini membuat pakaian lebih mudah diakses dan mengikuti mode terkini, dampak negatifnya terhadap lingkungan sangat besar dan patut menjadi perhatian. Apa saja dampak negatif dari Fast Fashion?

Industri fast fashion menggunakan bahan baku dalam jumlah besar, terutama serat sintetis seperti polyester yang berasal dari minyak bumi. Produksi polyester sangat boros energi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi. Selain itu bahan sintetis ini tidak mudah terurai di lingkungan, sehingga pakaian berbahan polyester berkontribusi pada polusi plastik mikro di laut dan tanah.

Karena sifat fast fashion yang mendorong pembelian cepat dan pembuangan pakaian yang juga cepat, limbah tekstil meningkat drastis. Banyak pakaian yang dibuang hanya setelah beberapa kali dipakai atau bahkan tidak dipakai sama sekali. Sampah pakaian ini biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), di mana bahan-bahan sintetis memakan waktu ratusan tahun untuk terurai.

Selain itu, proses produksi pakaian melibatkan penggunaan berbagai bahan kimia berbahaya, terutama pada tahap pewarnaan dan finishing. Limbah cair dari pabrik-pabrik ini sering dibuang langsung ke sungai atau laut tanpa pengolahan yang memadai. Akibatnya ekosistem perairan menjadi tercemar, mengancam kehidupan flora dan fauna serta kualitas air yang digunakan masyarakat sekitar.

Tidak berhenti disitu, produksi pakaian terutama katun, membutuhkan jumlah air yang sangat besar. Misalnya untuk membuat satu kaos katun bisa membutuhkan hingga 2.700 liter air. Konsumsi air yang tinggi ini dapat memperparah kelangkaan air di daerah-daerah yang sudah rawan kekeringan, serta merusak sumber daya air lokal.

Industri tekstil termasuk salah satu kontributor besar emisi karbon global. Proses produksi bahan baku, pengolahan kain dan limbah tekstil semuanya menghasilkan gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim. Fast fashion, dengan pola produksinya yang masif dan berulang, memperbesar dampak ini secara signifikan.

Fast fashion memang menghadirkan kemudahan dan pilihan mode yang beragam bagi konsumen. Namun di balik kemudahan itu diam-diam tersembunyi dampak serius terhadap lingkungan. Dari konsumsi sumber daya alam yang berlebihan, limbah tekstil yang mencemari, hingga emisi gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim.

Fast Fashion menunjukkan bahwa gaya hidup konsumerisme yang tidak berkelanjutan harus segera diubah. Untuk menjaga lingkungan, kita bisa mulai dengan mengurangi pembelian pakaian yang tidak perlu dan memilih bahan yang ramah lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....