Kunang-Kunang, Cahaya Terakhir di Gelapnya Malam

  • 18 Okt 2025 16:08 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, Lhokseumawe: Di malam yang sunyi, ada cahaya kecil yang seolah menari-nari. Ia bukan Bintang, melainkan sebuah kehidupan yang rapuh dari Hewan Kunang-Kunang.

Ya, Kunang-Kunang. Makhluk ciptaan Tuhan dari jenis dan keluarga Serangga.

Bentuknya tubuhnya mungil, namun mengeluarkan cahaya yang berasal dari tubuhnya sendiri. Cahaya Kunang-Kunang diyakini para ilmuwan berasal dari proses yang disebut Bioluminesensi.

Cahaya yang dihasilkan itu, bukan sekadar indah tapi juga bahasa untuk menarik pasangan, bahkan memperingatkan sinyal bahaya yang mengancam dari para Predator.

Namun sayangnya, cahaya mereka semakin jarang terlihat. Polusi dari Pestisida dan hilangnya Hutan, membuat Kunang-Kunang perlahan menghilang dari Bumi.

Kunang-Kunang adalah bukti bahwa cahaya sekecil apapun bisa membuat gelapnya malam terasa indah. Kunang-Kunang merupakan jenis serangga kumbang dan termasuk ke dalam famili Lampyridae, Ordo Coleoptera, kelas Insecta (Ellenberg, 1991, sebagaimana dikutip dalam Kurniawan & Ahmad, 2024).

Menurut Kurniawan dan Ahmad, terdapat sekitar lebih dari 2000 spesies Kunang-Kunang yang dapat ditemukan di daerah dengan empat musim dan tropis di seluruh dunia. Banyak spesies ini ditemukan di rawa atau hutan yang basah dimana tersedia banyak persediaan makanan untuk Larvanya.

Kumbang yang memiliki sebutan lain Kica-Kica ini, adalah jenis serangga yang identik dan mengeluarkan cahaya yang terlihat jelas saat malam hari. Uniknya, cahaya yang dikeluarkan Kunang-Kunang bukan sinar panas melainkan sinar dingin.

Hal itu dikarenakan sinarnya hanya menghasilkan panjang gelombang warna 510 sampai 670 nanometer, dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau, dengan efisiensi sinar sampai 96%. Demikian Ellenberg, 1991, sebagaimana dikutip dalam Kurniawan & Ahmad, 2024.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....