Melihat Kemilau Chongqing Ala Cyberpunk dari Atas Kapal Chaotianmen
- 26 Jun 2026 14:25 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Chongqing - Selasa, 23 Juni 2026 menjadi malam yang tak terlupakan bagi saya dan rombongan rekan-rekan jurnalis se-Sumatra. Berada ribuan kilometer dari kampung halaman, kami menjejakkan kaki di Dermaga Chaotianmen, Chongqing, untuk merasakan langsung pesona wisata malam susur sungai yang begitu tersohor di Tiongkok.
Sebagai jurnalis yang terbiasa melihat keindahan alam dan lanskap perkotaan di Aceh, pengalaman menyusuri pertemuan arus Sungai Yangtze dan Jialing ini memberikan sensasi takjub yang benar-benar berbeda.
Udara malam terasa sejuk saat kapal pesiar kami mulai beranjak dari dermaga. Namun, bukan riak air sungai yang mengunci perhatian kami malam itu, melainkan pertunjukan visual raksasa dari daratan.

Angle paling menarik dari wisata ini adalah bagaimana pemerintah Chongqing benar-benar mendesain tata cahaya gedung-gedung pencakar langitnya mengikuti kebutuhan wisata sungai.
Setiap gedung di sepanjang bantaran sungai seolah berfungsi sebagai kanvas. Lampu LED raksasa, animasi bergerak, hingga sorotan laser warna-warni menyala sinkron dari satu gedung ke gedung lainnya.
Cahaya-cahaya pada gedung-gedung Chongqing ini bukan sekadar penerangan biasa. Arsitektur megah seperti kompleks Raffles City yang melengkung bak layar kapal, hingga bangunan tradisional Hongyadong yang menyala keemasan, semuanya ditata dengan kalkulasi matang agar tampak paling sempurna saat dinikmati dari atas kapal yang tengah melaju.
"Di atas kapal ini, kita tidak hanya sedang menyusuri sungai, tetapi sedang menonton teater tata kota skala raksasa," ujar salah satu jurnalis.

Perasaan yang mendominasi saya malam itu adalah rasa takjub yang luar biasa. Pantulan cahaya dari ratusan gedung tinggi yang jatuh ke permukaan air sungai menciptakan ilusi seolah kami sedang berlayar di atas lautan bintang.
Bagi kami para jurnalis Sumatra, pemandangan ini memantik sebuah diskusi hangat di atas geladak kapal. Kami mengagumi bagaimana kota megapolitan yang padat ini mampu meramu perpaduan antara kontur geografis berbukit, aliran sungai yang deras, dan modernisasi arsitektur menjadi sebuah atraksi wisata malam yang bernilai jual sangat tinggi. Tidak ada sudut yang gelap, seluruh kota seolah hidup dan sengaja bersolek hanya untuk dipandangi oleh kami yang berada di atas air.
Akhirnya, wisata kapal Chaotianmen membuktikan bahwa pariwisata modern membutuhkan lebih dari sekadar keindahan alam bawaan, ia butuh inovasi, niat, dan eksekusi yang spektakuler. Hal inilah yang sepatutnya dijadikan panduan bagi kota-kota di Indonesia, bahkan lebih khusus di Aceh.
Malam itu, cahaya kota Chongqing tidak hanya berhasil menerangi kegelapan Sungai Yangtze dan Jialing, tetapi juga sukses menyalakan decak kagum yang akan terus membekas dalam ingatan kami sekembalinya ke tanah Sumatra.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....