Chongqing 1941 Teahouse: Paduan Seni, Komedi, dan Sulap Dekat Jiefangbei

  • 25 Jun 2026 11:19 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Chongqing — Hiruk-pikuk modernisasi di kawasan Jiefangbei, Chongqing, Republik Rakyat Tiongkok seakan memudar seketika saat saya melangkahkan kaki ke dalam Chongqing 1941 Impression Teahouse pada Selasa, 22 Juni 2026. Menelusuri ruangan teater, saya seolah ditarik masuk ke dalam lorong waktu menuju era Republik Tiongkok tahun 1940-an.

Sebagai jurnalis yang berkesempatan meliput kekayaan budaya di Tiongkok, malam itu saya sangat beruntung mendapatkan kursi paling depan, tepat berhadapan langsung dengan panggung utama. Jarak yang begitu dekat ini membuat saya bisa merasakan setiap detail energi dari pertunjukan seni yang disuguhkan.

Bermacam atraksi yang memanjakan mata salah satunya tarian teh leher panjang (long-spout teapot tea art). Ini jelas bukan sekadar cara menyeduh teh biasa. Sang seniman mengayunkan teko silver dengan corong sepanjang lebih dari satu meter, memadukan keanggunan seni menuang air dengan ketegasan gaya gerakan martial art (kungfu). Corong teko itu meliuk dengan presisi di udara, berputar ke atas, ke bawah, lalu menukik tajam yang akhirnya memancarkan air tepat ke dalam cangkir gaiwan tanpa meleset setetes pun.

Kepiawaian seniman lokal berlanjut pada sesi Chinese shadow puppetry atau wayang bayangan khas Tiongkok. Pertunjukan ini dibawakan dengan sangat baik dan hidup. Di balik layar putih yang berpendar, siluet binatang seperti anjing, kucing hingga kelinci dan kuda melompat menari dengan gerakan yang tersinkronisasi sempurna mengikuti irama lagu tradisional.

Tentu saja, panggung teater di Chongqing tidak akan lengkap tanpa kehadiran tarian pertukaran wajah atau Bian Lian dari Opera Sichuan. Duduk di barisan terdepan memberi saya keuntungan luar biasa. Saya bisa melihat topeng-topeng sutra itu berganti rupa dalam hitungan sepersekian detik diiringi semburan api, namun rahasia magis di balik kelincahan tangan sang penari tetap tak bisa saya tangkap. Mata saya dibuat tak berkedip melihat betapa cepatnya perubahan karakter itu terjadi.

Namun, kejutan terbesar malam itu bukan hanya sekadar menjadi penonton yang terpukau. Di pertengahan acara, seorang pesulap panggung yang karismatik tiba-tiba menunjuk ke arah saya. Tanpa persiapan apa pun, saya diajak naik ke atas panggung untuk menjadi partisipan dalam sebuah sesi seni sulap interaktif.

Adegan itu dimulai dengan iringan musik yang jenaka. Sang pesulap mengajak saya berjoget bersama sambil memainkan lembaran tisu di tangan, mengikuti setiap gerakannya. Tiba-tiba, ia meremas tisu tersebut dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Terbawa suasana panggung dan instruksinya, saya pun dengan lugu ikut memasukkan tisu tersebut ke dalam mulut saya.

Lalu tibalah momen puncaknya, dengan gaya teatrika pesulap itu perlahan menarik ujung tisu dari bibirnya, yang entah bagaimana telah berubah wujud menjadi tali putih panjang yang seolah tak ada habisnya ditarik dari dalam perut. Merasa tertantang dan harus mengikuti gerakan yang sama, saya pun mencoba mengeluarkannya. Namun alih-alih mengeluarkan untaian tali panjang nan magis, saya hanya berdiri kebingungan dengan tisu yang masih mengganjal di mulut, tak bisa mengeluarkan tali yang sama.

Aksi konyol dan kepolosan saya di atas panggung itu sontak memecah tawa seluruh penonton di teater, terutama rombongan jurnalis yang datang bersama saya. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat nasib rekan mereka yang gagal total menjadi asisten pesulap dadakan.

Pengalaman di Chongqing 1941 Teahouse malam itu menjadi lebih dari sekadar apresiasi terhadap budaya. Acara ini merupakan perpaduan sempurna antara pelestarian seni tradisional yang magis dan interaksi komedi yang sangat menghibur.

Bagi Anda yang ingin merasakan sendiri pengalaman magis Opera Sichuan dan menikmati secangkir teh hanya 100 meter dari tugu Jiefangbei, pertunjukan ini adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....