Napak Tilas Penuh Luka di Museum Pengeboman Chongqing

  • 24 Jun 2026 08:13 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Chongqing - Hujan di musim panas Chongqing terasa cukup dingin hari itu. Saya dan rombongan jurnalis dari berbagai provinsi se-Sumatra melangkahkan kaki memasuki Museum Peringatan Pengeboman Chongqing.

Kunjungan kami pada Selasa, 23 Juni 2026 siang, bukan sekadar peliputan biasa. Ini adalah perjalanan napak tilas untuk melihat dari dekat salah satu babak paling kelam dalam sejarah Tiongkok.

Chongqing hari ini adalah kota megapolitan raksasa dengan gedung pencakar langit yang seolah menembus awan. Namun, tepat di jantung kota yang sibuk ini, tersimpan luka lama dari tahun 1938 hingga 1943. Selama lebih dari lima tahun, kota ini dihujani bom oleh pesawat-pesawat tempur Jepang, menjadikannya salah satu kota yang paling lama dibom dalam sejarah Perang Dunia II.

Saat saya menuruni tangga menuju ruang bawah tanah museum yang dulunya merupakan tempat perlindungan (bunker), suasana berubah drastis. Walaupun kelihatannya sudah dipugar, lorong ini sengaja dipertahankan keasliannya untuk memberikan efek psikologis kepada siapa pun yang datang. Dan itu benar adanya. Udara terasa pengap, dan pencahayaan remang seolah memaksa saya untuk ikut merasakan ketakutan warga Chongqing di masa lalu.

Ada beberapa hal utama yang membut hati sebagai jurnalis terasa getir saat mengamati isi museum ini. Dinding foto hitam-putih dengan ratusan foto asli yang dipajang menceritakan kehancuran total. Foto bngunan yang rata dengan tanah, anak-anak yang menangis di tengah puing, dan wajah-wajah putus asa terpotret dengan sangat jelas. Selain foto, ada patung perunggu di beberapa sudut. Patung perunggu seukuran manusia yang menggambarkan warga sipil yang berdesakan, terluka, dan saling melindungi. Ekspresi penderitaan pada patung-patung ini terasa sangat hidup.

Bagian paling menyayat hati adalah area yang didedikasikan untuk tragedi 5 Juni 1941. Saat itu, ribuan warga sipil yang bersembunyi di terowongan kehabisan napas dan tewas tertumpuk akibat sistem ventilasi yang rusak karena pengeboman brutal di atas mereka. Saat saya berdiri di lokasi ini membuat napas serasa ikut sesak.

"Coba tutup matamu sebentar dengarkan audionya," bisik Yocerizal, seorang rekan jurnalis dari Aceh.

Di dalam ruang pameran, pengelola museum memutar rekaman suara sirene peringatan serangan udara yang meraung-raung, disusul suara gemuruh pesawat dan dentuman bom yang memekakkan telinga. Mendengarnya saja membuat bulu kuduk saya berdiri, menyadarkan betapa berharganya arti kedamaian yang kita hirup hari ini.

Garis Merah antara Sumatra dan Chongqing

Sebagai jurnalis yang datang dari Sumatra, Indonesia, kunjungan ini memberikan kedekatan emosional yang kuat. Indonesia, termasuk Sumatra, juga pernah merasakan pahitnya penjajahan dan pendudukan militer Jepang selama periode yang hampir bersamaan. Melihat penderitaan warga sipil di Chongqing membuat saya menyadari bahwa perang tidak pernah memilih korbannya dan hanya meninggalkan air mata serta trauma di manapun ia terjadi.

Kunjungan delegasi jurnalis Sumatra ke Museum Pengeboman Chongqing ini bukan sekadar membuka kembali luka lama. Lebih dari itu, tempat ini menjadi pengingat paling keras bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh dilupakan, bukan untuk memupuk dendam, melainkan sebagai peringatan agar sejarah kelam semacam ini tidak pernah terulang lagi di masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....