Ratusan SPBU Australia Kehabisan BBM,

  • 26 Mar 2026 22:38 WIB
  •  Lhokseumawe

RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) melanda sejumlah wilayah di Australia. Dilaporkan, ratusan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami kehabisan stok dalam beberapa hari terakhir, memicu kepanikan warga dan antrean panjang di berbagai kota besar.

Perdana Menteri Anthony Albanese langsung merespons situasi ini dengan menggelar rapat darurat bersama jajaran kabinet dan otoritas energi nasional. Pemerintah berupaya mencari solusi cepat untuk menstabilkan distribusi BBM yang terganggu.

Menurut laporan awal, gangguan pasokan dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, mulai dari keterlambatan distribusi, lonjakan permintaan, hingga masalah logistik di pelabuhan. Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya konsumsi bahan bakar menjelang musim liburan dan aktivitas ekonomi yang kembali normal.

“Kami mengambil langkah serius untuk memastikan pasokan kembali stabil. Prioritas utama adalah menjaga kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi,” ujar Albanese dalam pernyataan resminya.

Situasi paling parah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah pinggiran dan regional, di mana distribusi BBM sangat bergantung pada jalur logistik darat. Sejumlah SPBU bahkan terpaksa menutup sementara karena stok benar-benar habis.

Warga pun mengeluhkan kondisi ini. Antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter di sejumlah titik, sementara sebagian lainnya memilih membatasi penggunaan kendaraan demi menghemat bahan bakar.

Pemerintah Australia kini tengah mempertimbangkan sejumlah langkah darurat, termasuk membuka cadangan energi nasional dan mempercepat impor BBM dari negara mitra. Selain itu, koordinasi dengan perusahaan energi juga diperkuat untuk mempercepat distribusi ke wilayah terdampak.

Pengamat energi menilai, krisis ini menjadi peringatan penting bagi Australia untuk memperkuat ketahanan energi nasional, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan infrastruktur distribusi.

Hingga kini, pemerintah belum memastikan kapan kondisi akan kembali normal, namun masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memperparah situasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....