Two State Solution, Israel-Hamas Harus Patuhi Kesepakatan Dibuat PBB

  • 13 Okt 2025 12:43 WIB
  •  Lhokseumawe

KBRN, New York: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan, komitmennya untuk perdamaian dan membentuk tatanan baru di kawasan Timur Tengah. 

Bahkan pada Sabtu (4/10/2025), Trump telah berangkat menuju Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gaza di Israel dan Mesir. 

"Ini pertama kali semua orang kagum dan bersemangat", ujar Trump sebagai dikutip dari Associate Press, Senin (13/10/2025). 

Trump mengaku bahwa momen ini merupakan sebuah kehormatan baginya untuk terlibat. Semua ini akan membentuk waktu yang luar biasa, serta akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Hari ini baik Israel maupun negara-negara muslim dan Arab merayakan momen tersebut secara bersamaan. 

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya kalau satu pihak bersorak, pihak lainnya tidak bahkan sebaliknya. Ini pertama kalinya semua orang kagum dan bersemangat. Karena itu, suatu kehormatan untuk terlibat", ungkap Donald Trump. 

Sebelumnya sebanyak 157 dari 197 Negara anggota PBB mengakui kemerdekaan Palestina termasuk Indonesia didalamnya. 

Hal ini berarti 81 persen komunitas Internasional menyetujui dan mendukung solusi "Two State Solutions" yakni terbentuknya dua negara antara Israel dan Palestina sekaligus gencajatan senjata mengakhiri perang. 

Terakhir, dalam sidang umum PBB, pada Senin (22/9/2025), Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto berpidato untuk penyelesaian damai atas masalah Palestina dan implementasi solusi dua negara. 

Dalam pidatonya yang diselenggarakan di Gedung Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PPB) di New York, Amerika Serikat itu, Prabowo menyampaikan, keprihatinan mendalam atas tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza. 

"Ribuan nyawa tak berdosa, banyak diantaranya perempuan dan anak-anak, telah terbunuh. Kelaparan mengancam. Bencana kemanusiaan sedang terjadi di depan mata kita. Kami mengutuk semua tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa", ucapnya. 

Lebih lanjut, Prabowo menegaskan, akan mengakui Israel apabila Israel mengakui Palestina Merdeka. 

Disusul pula oleh Presiden Perancis, Emmanuel Macron, hingga Spanyol dan lain-lain. Serta puncak dari semua itu kemudian dipastikan oleh Inggris melalui Perdana Menteri, Keir Starmer. 

Keir Starmer menyatakan, bahwa pengakuan terhadap pembentukan Negara Palestina telah mulai dilakukan Inggris sejak bulan Juli 2025.

Untuk menghidupkan kembali harapan Perdamaian dan Two State Solution. "Saya menyatakan dengan jelas sebagai Perdana Menteri Negara besar ini, bahwa Inggris secara resmi mengakui negara Palestina. Kami mengakui negara Israel lebih dari 75 tahun lalu, sebagai Tanah Air bagi orang-orang Yahudi. Hari ini, kami bergabung dengan lebih dari 150 Negara, yang juga mengakui Negara Palestina", ungkap Starmer di hadapan awak media. 

Ikut mendukung Inggris pula Kanada, Australia, dan Portugal. Disamping itu, Inggris menepati janjinya dengan menekankan beberapa persyaratan solusi penyelesaian kepada Israel, sebagai berikut:

  • Israel untuk agar mengakhiri situasi memilukan di Gaza;
  • Israel harus menyetujui adanya gencatan senjata;
  • dan berkomitmen untuk perdamaian jangka panjang;
  • serta menghidupkan kembali prospek solusi dua negara;
  • Mengizinkan PBB melanjutkan suplai makanan ke Gaza;
  • serta Israel harus memastikan tidak ada pencaplokan wilayah di Tepi Barat. 

Sementara untuk Hamas, Inggris juga menawarkan beberapa persyaratan, yakni:

  • Membebaskan seluruh sandera;
  • Menyetujui adanya gencatan senjata, melepas senjata;
  • dan harus menerima bahwa mereka tidak akan ambil bagian dalam Pemerintahan Gaza

Selain itu, Inggris juga akan memantau ke dua belah pihak memenuhi semua persyaratan tersebut, dan tidak ada yang bisa memveto keputusan kami, tegas Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....